Cerpen Psikologis - Cerita Pendek


Cerpen Psikologis - Cerita Pendek


Cerpen/Cerita Pendek Psikologis - Kota Terakhir - Selamat datang di blog absurd gue. Di artikel
kali ini gue mau bagiin cerita, lebih tepatnya cerpen yang bergenre misteri. Misteri pastinya menjadi daya tarik tersendiri, ya guys. Kemisteriusan bisa bikin penasaran, gimana aja cowok misterius yang suka dikejar-kejar cewek kayak admin *jduak. Oke, sebelum ke ceritanya, admin mau bahas dikit mengenai cerpen.

Cerpen atau cerita pendek adalah sebuah karya tulis yang cukup banyak penggemarnya, apalagi kalau di luar negeri, tapi kalau di Indonesia, buset, peminatnya dikit, maklum, orang yang suka baca di Indonrsia itu 1 berbanding 10.000. Mantap, 'kan?

Cerpen itu ada banyak jenisnya. Contohnya kayak Cerpen Komedi, Cerpen Horror, dan lain-lain. Nah, seperti judul dalam artikel ini, kali ini gue mau bagiin cerpen misteri.


Kota Terakhir

    Bunyi melengking menusuk telinga, dan mata  langsung terbuka. Nampak hamparan gedung tua yang sudah lama tertanam di kota ini.

Di atas aspal yang sudah retak ini, tubuhku berbaring. Perlahan tubuh ini bangkit, walau rasa sakit dan pegal mengerumuninya. Kugeser pandangan kekiri dan kanan, yang ada hanya bangunan tua. “Kemana semua orang pergi?”

Kuseret kaki ke pinggir jalan, tuk sekedar berdiam diri sejenak di depan toko akuarium tua, dan seperti tempat yang lainnya, disana pun tidak ada siapa-siapa.

Otak ini berpikir keras tuk mengingat apa yang terjadi, namun seolah ada lubang besar yang bersarang dalam pikiran ini. Yang kutahu, namaku adalah Lio, selebihnya aku tak tahu apa-apa.
Perut ini memberi isarat kalau tubuhku memerlukan makanan. Langkah demi langkah tercipta, walau ada keraguan dalam hati kalau langkah ini akan mengantarkanku kepada makanan.

Satu, dua, tiga, toko-toko, rumah, dan hotel yang kulewati semuanya kosong, tak berpenghuni.

Namun tiba-tiba saja sebuah selembaran yang tak sengaja terinjak menjadi pusat perhatian. Perlahan lengan ini meraihnya. Untungnya aku masih ingat bagaimana caranya membaca. Lembaran ini memapangkan wajah seorang perempuan dengan mata yang terhalang garis hitam tebal. Aku pun menyimpan selembaran itu disaku celana untuk berjaga-jaga.

Hanya berjarak beberapa langkah dari tempat tadi, ada restoran steak. Restoran yang tak begitu mewah, namun nampak cukup memesona. Mata ini tak dapat melihat apapun melalui kaca hitam restoran, namun telingaku bisa mendengar orang-orang yang tengah memotong daging, minum-minum, dan saling berbincang ringan.

Kubuka pintu restoran, dan tak ada siapapun disana. Sebenarnya ada apa ini? Makanan dan minuman masih tersedia di meja makan, bahkan sebagian ada yang sudah setengah termakan. Kucoba mengambil salah satu steak daging sapi itu dan memasukkannya ke mulut. Hmm, rasanya seperti steak pada umumnya.

    Tiba-tiba saja suara tangisan anak kecil menarik perhatian. Dengan langkah ragu-ragu, aku menuju belakang restoran, tempat dimana suara itu berasal. Benar saja, disana ada seorang anak laki-laki yang tengah menangis di pojok ruangan. Dengan kepala tertunduk, dan lengan mungil yang merangkul kakinya.

    Aku tak terlalu suka anak kecil, namun karena tak ada siapapun disini, aku pun menghampirinya. “Ada apa, buddy?”

    Dia tidak menjawab pertanyaanku, hanya terus menangis terisak. Aku pun membungkuk di hadapannya dan kembali bertanya. “Mungkin aku bisa membantu.”

    Tangisannya pun perlahan terhenti, walau nafasnya masih terisak. Dia menatapku selama beberapa saat, kemudian berbicara dengan suara parau. “Aku lapar.”
 “Hey! Kau berada di dalam restoran, dan disana ada tumpukan makanan tanpa seorang pun yang memakannya, pergi dan makan saja makanan itu!”
“Menurutmu begitu?” Nada bicara anak itu menunjukkan kalau dia ragu.
“Selamat datang di hadapan kenyataan, nak,” ujarku sambil memalingkan wajah. “Kau harus bisa bertahan hidup dengan cara apapun, suka atau tidak suka.”
Anak itu bankit dan mengganggam lenganku, seolah memintaku tuk menemaninya ke ruang makan. Aku pun mengantarkannya tepat ke depan meja makan, disana sudah tersedia steak yang dimasak setengah matang. Anak itu makan dengan cepat, namun dia memuntahkannya lagi, hal itu sukses membuatku jijik.
“Ngomong-ngomong, kamu tahu apa yang terjadi?” tanyaku.
 “Apanya yang terjadi?” anak itu malah berbalik bertanya.
“Tidakkah kota ini terasa sedikit aneh? Kemana perginya semua orang? Dan apa yang kamu lakukan disana?”
“Aku mencari ayah dan ibu.”
“Hmm, begitu, ya.” Aku memalingkan wajah. “Baiklah, semoga beruntung dengan mencari orang tuamu.”

Aku langsung mengambil langkah seribu, tapi suara retakan menghentikan langkahku. Perlahan kepala ini menoleh ke belakang, atap di atas anak itu retak. Retakannya menjalar ke seluruh restoran.

Dengan cepat kugendong anak itu dan membawanya keluar. Benar saja, beberapa saat kemudian restoran itu rubuh. Namun bukan hanya rata dengan tanah, tapi puing-puing restoran sampai masuk ke dalam lubang yang sangat besar dan dalam. Dengan langkah yang sedikit dihantui rasa takut, aku mendekati lubang itu. Kemudian menendang kerikil kecil kedalamnya, bahkan aku tidak bisa mendengar suara kerikil itu mendarat.

BRUUUSHH!!!

Gedung besar di belakangku pun dilahap bumi, tak menyisakan apapun. “Kita harus pergi darisini. Nampaknya disini ada bencana alam dan kita tertinggal saat pengevakuasian.”
“Tapi, ayah sama ibu.” Anak itu merengek.
“Cih, baiklah, biasanya mereka berada dimana? Atau kapan terakhir kali kau bersama dengan mereka?”
“Ditaman,” anak itu menjawab pelan. “Taman di dekat sini.”

Kami pun berjalan bebarengan, anak itu menempel sangat lekat padaku, seolah aku adalah satu-satunya tempat ia berlindung, seolah dia mati jika tidak ada aku.

Dalam hitungan menit, kami sampai di taman, namun sayangnya seperti tempat yang lainnya disini, taman itu pun kosong, aku hendak melangkah kembali, namun anak itu menghentikanku. “Ayok kita tunggu ibu sama ayah disini.”

Entah kenapa aku memberikan anggukan dan menunggu di kursi taman, sementara anak itu bermain, dia nampak sangat senang.

Sempat terpikirkan untuk meninggalkan anak itu sendiri dan menyelamatkan diri, pergi dari kota yang hancur ini. Jangan pergi, toh nanti kamu juga bakal tetep mati, hihihi. Akhirnya aku mengurungkan niat tuk meninggalkan anak itu sendiri, walau pun sebenarnya aku ini seorang yang individualistic.

Melihat anak kecil bermain sendirian, mengingatkanku kembali akan masa suram itu, masa dimana tubuh ini masihlah sangat kecil dan tak berdaya. Dulu pun yang menemaniku hanyalah seorang teman khayalan dan boneka usang dengan lengan yang hanya tinggal satu, juga keheningan dan kesunyian seolah sudah menjadi teman abadi semenjak saat itu.
“Hey nak! Coba jelaskan padaku, seperti apa ayah dan ibumu itu?” tanyaku memulai percakapan.
“Ayah orangnya keras dan suka memukuliku untuk pelampiasan,” jawabnya datar. “Ibuku juga suka memukuliku dengan sapu, dan terkadang berkata kalau aku yang mengambil uang ayah, walau sebenarnya ibu yang mengambil uang itu.”
“Dan kau tidak keberatan dengan hal itu?” tanyaku bingung.
“Tidak, selama ayah dan ibu tetap menemaniku, aku tidak apa-apa.” Senyum lebar dan polos menghiasi wajahnya, dia nampak sangat tulus mengatakan hal itu.
“Anak baik,” pujiku pelan sambil membalas senyumnya. Aku pun beranjak dari bangku taman dan menghampirinya. Kemudian menghajarnya dengan keras sampai dia tersungkur ke tanah.
“SUDAH JELAS KALAU ORANG TUAMU TIDAK MENGINGINKANMU!!!” teriakku sekeras mungkin. Rasanya kepala ini meledak seketika, emosi pun langsung melambung tinggi dan menggebu-gebu kepada anak polos dan bodoh ini. “Tidakkah kau melihat kalau mereka meninggalkanmu?! Kau hanya beban bagi mereka, seperti babi peliharaan yang bodoh. Bahkan kematianmu pun bisa menjadi berkat bagi mereka.”

Orang sepertinya lebih baik mati saja, dulu aku pun pernah seperti itu, rasanya senang sekali ketika ibu berbicara lemah lembut padaku, sesaat setelah ayah marah. Ibu sudah seperti malaikat pelindung yang selalu melindungiku, mungkin karena itulah orang-orang berkata bahwa ibu adalah malaikat tanpa sayap.

Namun sayangnya yang kualami tidaklah seindah itu, hati ini remuk bukan main ketika tahu bahwa yang menyulut amarah ayah tuk memakiku adalah dia, ibuku sendiri. Dia memfitnahku atas kejahatannya, dibalik sosoknya yang telah kuanggap sebagai malaikat, tersimpan sosok iblis sejati yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, semenjak saat itulah aku mulai kehilangan rasa kepercayaanku kepada orang-orang.

“Ayah, ibu.” Anak itu menangis. Tangisannya membuatku kembali tersadar dari lamunan. Dengan suara parau dia berakata pelan, “kenapa? Kenapa kalian meninggalkanku? Apa yang telah kuperbuat? Aku tidak pernah meminta ibu tuk melahirkanku.”

Hotel dan toko-toko kembali termakan bumi. Sementara tangisan anak kecil ini semakin kencang, mengesalkan sekali. Dia bergeser perlahan ke pojok taman, merangkul kakinya dan merengek, berharap ada yang akan menolongnya. Kaki ini pun kembali melangkah menghampirinya dengan emosi yang mengiringi.

Setelah berada tepat di hadapannya, aku pun langsung memeluknya erat. “Maaf, maaf sekali.” Perlahan tenggorokan ini terasa sesak. “Selalu berusaha mendapat nilai yang bagus, berprilaku baik, dan berusaha mendapat perhatian dari mereka, itu menyesakkan bukan?”
“Aku juga mengalaminya, tapi-,” ucapanku menggantung. “Tapi jangan sampai kau menjadi orang sepertiku, orang apaties yang menyedihkan. Seorang individualistic yang mementingkan dirinya sendiri, sampai berani merampok kesana-kemari tuk mencari makanan.”
“Aku tahu kalau kamu adalah anak yang baik, kamu hanya ingin disayangi seperti anak lainnya, namun kasihan sekali kamu, kamu tak seberuntung mereka. Namun sekarang, ayok kita pergi dari kota ini,” ajakku sambil melepas pelukan dan menggenggam lengan kecilnya. Tak akan kubiarkan anak ini berakhir sepertiku, tak akan kubiarkan dia kembali mencicipi pahitnya hidup ini.

Kuulurkan lengan ini dengan lembut, namun lengan mungil itu tak meraihnya. “Tidak, semuanya pergi bukan karena kota ini hancur, tapi mereka pergi dari kakak,” jelas anak itu pelan. “Kakak yang tega membunuh orang lain, semua orang pergi.”

BRUUSSHH!!!

Bangunan belakang taman memasuki tanah. Namun hal itu sama sekali tak kuhiraukan. Ucapan anak kecil itu membuatku tak peduli dengan kondisi sekitar. Senyum tipis akhirnya terlukis di wajah ini. “Jadi kamu sudah tahu kalau aku pembunuh, ya? Lalu kenapa kamu masih ingin bersamaku?”
“Karena-.” Anak itu bangun dan memelukku erat. “Kakak yang selalu melindungiku. Kakak yang selalu bersamaku, dan selalu melakukan apapun untukku tanpa memikirkan konsekuensi, bahkan kakak sampai terkoyak peluru.”

Ucapan anak itu kembali memberikan dentungan keras di kepala ini. Tanah kembali retak, namun lubang yang akan tercipta kali ini jauh lebih besar lagi. Aku pun memberikan pelukan yang sama eratnya dengan yang ia beri. Kemudian bibir ini berbisik pelan walau rasa sesak di dada ini benar-benar mencekik. “Maaf, aku telah menghancurkannya. Entah apa yang membuatku menjadi seperti ini, maaf. Aku telah berubah dari anak baik sepertimu menjadi seorang monster, aku sama sekali tak bermaksud seperti itu.”

Akhirnya aku sadar, kami tidak akan pernah bisa pergi darisini, karena ini adalah pikiran kami sendiri. Kota yang rubuh ini hanyalah gambaran dari ingatan dan pikiran yang mulai hancur dan menghilang, namun kota yang hancur ini memang pantas tuk rubuh, ini bukanlah kehidupan yang pantas hidup.

Lubang besar tercipta, dan menelan semua yang tersisa, termasuk kami berdua. “Kita sudah cukup lama bertahan dalam dunia yang hancur ini, sekarang ayok kita istirahat bersama.”

Selesai
Cerpen Psikologis - Cerita Pendek Cerpen Psikologis - Cerita Pendek Reviewed by SA Channel on 14:34 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.