Showing posts with label Cerita Horor. Show all posts
Showing posts with label Cerita Horor. Show all posts

Monday, 16 October 2017

Cerpen Psychopath [Psychological] Keren Sadis

Heathens

            Ada orang yang membuka dirinya dengan dunia ini, dan ada juga orang yang mengurung diri di dunianya sendiri, dunia yang hanya mereka sendirilah yang tahu detailnya. Namun aku merasa kalau dunia yang kuciptakan dalam kehidupanku ini sedikit berbeda.

             Pada siang hari, aku bekerja di sebuah pabrik. Upah yang kuterima memang tak banyak, namun karena hidup seorang diri, uang itu bisa dibilang lebih dari cukup. Jika ada waktu senggang di siang hari, kuhabiskan waktu dengan menulis cerita atau pun artikel, atau sekedar membaca tulisan-tulisan di internet.

            Malamnya, lebih tepaatnya pukul 2 malam. Aku keluar dari rumah kecilku, menuju pinggiran kota, namun letaknya tak terlalu jauh. Sekedar berkunjung ke pabrik tua bekas yang sudah tak beroprasi lagi, untuk menengok orang yang selalu bisa menghiburku, dengan memberinya luka. Aku mengikatnya di ruang bawah tanah berukuran 3x3 meter. Walau terkadang  dia menjerit kencang, hanya sedikit orang yang mendengarkan, dan walau pun mereka dengar, mereka hanya akan berasumsi kalau itu suara hantu atau sejenisnya.

            Pendarahan di kemaluannya masih belum kering. Kalau tak salah aku baru membuat luka itu beberapa hari yang lalu. Sebenarnya aku tak terlalu suka melakukan hal ini kepada lelaki paruh baya sepertinya, namun daripada tidak ada sama sekali, jadi tak masalah. Dia seorang perantau dari desa yang cukup jauh, datang untuk menemui anaknya yang sudah mati. Keluarganya terbilang tak mampu. Selain itu dia juga tak memiliki kenalan disini. Sederhananya, dia mati pun tak akan ada yang peduli.

            Terkadang aku memberinya serangga untuk makanan, atau air dari sungai untuk minum. Sesekali aku juga membawa pisauku untuk  menguliti sebagian kecil tubuhnya dan kubuat aksesoris. Aku tidak pernah keberatan dengan hal yang aku lakukan ini. Semua orang memiliki duanya masing-masing. Selain itu kau mencari uang, cinta, dan sejenisnya untuk kesenangan, ‘kan? Lalu jika aku bisa mendapatkan kesenangan tanpa itu semua hanya dengan hal ini, apa masalahnya? Sensasi ketika berkelahi atau membuat orang kesakitan, itu sudah cukup menggelikan dan membuatku tertawa.

            Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, aku tidak masalah dengan kehidupan yang aku jalani ini, sampai pada suatu malam, aku kedatangan mimpi yang aneh. Dimimpiku aku berada di sekitar lingkungan rumah, kemudian melangkah menuju pesisir kota, lebih tepatnya ke tempat ini, namun di tengah perjalanan ada orang yang membisikkan suatu hal. Katanya aku akan mati tanggal 23 Januari. Hal itu tentu sangat membuatku terkejut, namun rasa terkejut itu sirna ketika aku sadar kalau ini baru tanggal 1 januari. Ketika terbangun, aku kembali tertidur nyenyak.

            Sekarang saat melakukan kebiasaanku dengan pisau, gunting, dan sejenisnya, tiba-tiba saja mimpi itu kembali terlintas. Bisikan dimimpiku terdengar jelas dan suaranya terasa tidak asing lagi. Sejenak aku berpikir suara siapa itu, dan tak butuh waktu lama bagi diriku untuk menyadari suara siapa itu, itu suara yang sama dengan suara yang membisikkan hal-hal aneh kepadaku ketika masih kecil dan hidup dengan dua iblis yang mereka sebut orang tua. Sesekali suara iyu masih terdengar, namun sudah cukup lama aku tidak mendengarnya. Mungkin orang-orang akan berkata kalau itu adalah bisikan setan atau sejenisnya, namun aku bukanlah type orang yang percaya dengan hal semacam itu.

            Namun ingatan mengenai masa kecilku kembali bangkit. Aku baru ingat kalau dulu aku pernah melihat setan atau sejenisnya. Bahkan wujudnya masih teringat sangat jelas. Dia memiliki wajah merah terang dengan bola mata bulat berwarna hijau cerah. Rambutnya keriting panjang hitam. Dia memiliki dua tanduk merah. Dan pakaiannya seperti hantu pada umumnya, namun berwarna merah. Ketika itu dia sedang hendak mencekik ibuku dengan jari tangannya yang berhias kuku hitam panjang, namun lengannya terhenti ketika ia sadar kalau aku sedang melihatnya. Saat itu pun aku tak bisa bergetak atau pun berbicara. Sesaat setelah dia melihatku, dia menghilang, tak jadi mencekik ibu, padahal aku sangat berharap kalau dia akan melakukannya.

            Baiklah, jadi hantu itu ada dan aku pernah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, lalu kenapa aku menjadi seorang atteis.

            Memori masa laluku kembali berputar, dan akhirnya senyum tipis terlukis di bibirku ketika ingatan menjijikan itu kembali teringat. Teringat saat ayah dan ibu bertengkar dan aku hanya bisa diam dibalik kursi sambil menangis, waktu itu aku masihlah sebuah sampah yang tak berguna. Aku juga ingat ketika ayah memukuliku atau ketika ia melakukan pelecehan atau bahkan ketika saudaranya mempermainkanku.

Kutepuk jidatku sendiri. Hidupku ini memang sangat menjijikan. Dialah yang telah memasukkanku pada keluarga menjijikkan itu. Dialah yang sudah mengirimiku penderitaan walau aku masihlah seorang anak yang polos. Dialah yang memberi cat merah pada kehidupan ini.


Pada akhirnya aku kembali berpegang teguh pada pendirian sebelumnya. “Tuhan itu tidak ada, dan meskipun Dia ada, Dia benar-benar sialan,” gumamku pelan. “Benarkan? Ayah?” kutatap lekat pria tua itu.

Tuesday, 11 April 2017

Cerita/Cerpen Horror Komedi Kisah Nyata


Yoo, guys, biasanya ane sering share cerbung atau cerpen yang dengan sengaja dirahasiakan kebenarannya, nah, sekarang ane mau ngeshare pengalaman creepy yang berbalut ghaib. Dan berhubung kalo pake kata 'ane' itu berasa aneh, jadi enaknya pake kata 'gue' aja ya, biar kerasa kek yg lagi ngobrol gitu.

Pertama, ini kejadian udah ada sekitar setahun yang lalu, saat dimana gue lagi kehilangan 'suatu' hal yang bkin hidup gue seru gitu. Dan berhubung berasa gak ada kerjaan, gue coba-coba cari hal berbau ghaib dengan cara gue sendiri.

Jadi begini caranya, setiap jam 11 malem, gue ngerekam suara via ponsel di kamar gue, dan paginya gue check rekaman itu pake aplikasi edit video, ngeliat ada suara apa aja yang kerekam. Karena katanya, kita emang sulit bahkan gak bisa lihat makhluk astral, tapi lebih mungkin kalo ngedenger suara mereka, ya bisa aja gue ngerekam percakapan rumpi kuntilanak, kan bagus buat bahan cerita.

Hari pertama cuma ada suara cicak sama toke, dan suara pintu yang kebuka, mungkin itu ortu atau sodara gue.

Tapi gue gak berhenti melakukan hal itu, gue ngelakuin hal itu sekitar 4 kali. Dan berbuah hasil, gue ngedenger suara kek gelombang elektromagnetik, ya walau pun gue gak terlalu yakin sih. Dan sialnya, suara itu ngikutin gue.

Jadi pas gue bangun tengah malem dan berjalan ngelewat ponsel, suara itu kedenger, dan kian lama makin jauh seiring langkah kaki gue. Lalu kedenger suara gue nutup pintu dan kembali ke atas kasur, dan kedenger suara yang sama pas gue lewat. Suaranya agk susah dijelasin, pokoknya kek suara gelombang elektromagnetik.

 Bahkan ketika gue main komputer jam 2 subuh, suara itu kedenger, dan ngilang sekitar jam 4, atau pas adan awal. Tapi yang paling bikin gue kaget setengah idup, gue ngedenger suara babi di salah satu rekaman gue.

Waktu itu ponsel gue disimpan di lantai atas, yang emang 'katanya' ada sesuatu di atas sana. Besoknya, di jam yang sama, sekitar jam 11 lebih, gue bangun dan bertingkah normal selagi nunggu kali aja suara babi itu terdengar lagi.

Dan bener aja, suara itu kedenger, walau agak pelan. Gue pun beranikan diri mendekati suara tersebut, lebih tepatnya gue pergi ke lantai atas. Suara itu makin jelas. Dan ternyata ..., itu suara bapak gue yang ngorok.

Oke, next, cerita kedua klo yg ini serius. Waktu itu gue nemenin bapak ke rumah temennya yang lumayan agak jauh dan di pinggir jalannya pun memang masih banyak pepohonan, dan kebetulan juga harinya udah sore banget.

Nah, pas gue lewat di suatu jalan. Secara kebetulan gue ngelirik ke pinggir jalan, disana dinding, lumayan tinggi, emang gak ada yang aneh dengan dinding itu, tapi di atas dinding itu ada cewek terbang dengan badan yang cuma separo. Gila, gak tuh? Refleks, gue langsung nanya ke bapak gue, dia lihat hal yang sama gak? Tapi katanya dia gak ngeliat apapun.

Gak berselang lama, gue udah sampai di tempat tujuan. Setelah ngasih duit, gue sama bapak pun kembali pulang. Ke khawatiran pun langsung menyerang. Gue mikir, apa gue bakal liat hal yang tadi lagi?

Dan ternyata, walau pun masih lumayan jauh dari tempat yang tadi, gue udah bisa lihat wanita itu, tapi setelah mata rabun gue diperjelas, ternyata itu cuma orang-orangan sawah.

Ketiga, mungkin cerita pertama dan kedua emang keanggap sepele bahkan kocak mungkin, tapi jangan berharap kalau yang ini juga gitu. Gue serius. Lo pasti tahu game charlie kan? Bukan charlie yang mirip uchiha itachi, ini charlie hantu. Singkatnya gue maen permainan itu di perpustakaan sekolah, di pojokan, gak ada siapapun, dan gak terjadi apa-apa.

Keempat, kalo kadar cerita yang ketiga masih kurang, kini gue naikin lagi creepynya. Lagian cerita yg ketiga cuma pemanasan biar lo gak terlalu terkejut. Jadi gini, gue yakin lo pernah denger soal hantu dan cermin, dua hal itu emang kadang sangat terikat gitu.

Dan gue pernah baca dengan menatap diri kita lama-lama dan berkedip perlahan sambil menatap cermin, kita bisa melihat 'sosok' yang menyeramkan.

Gue praktekin, kali aja dapat pengalaman seru yang bisa dibikin cerita. Nah, pas gue lakuin, ternyata bener, ada sosok yang menyeramkan dan itu adalah diri gue sendiri, tapi maksudnya bukan gue buruk rupa, tapi diri gue di dalam cermin itu perlahan berubah. Kulitnya berubah jadi item, dagunya membesar, matanya jadi ijo, dan begitulah, cobain aja sendiri.

Gak berbahaya kok, buktinya gue masih idup dan nulis cerita ini. Dan usut punya usut, ternyata hal itu sangatlah masuk akal. Bisa dibilang otak kita yang mengolah informasi perlahan jenuh dan sulit tuk fokus, sehingga objek yang dilihat berubah.

Lima, ini sebenernya bukan murni cerita gue, ini cerita mamah gue. Waktu itu dini hari, pas gue lagi duduk, tiba-tiba saja mamah menghampiri dengan ekspresi cemas. Lalu berkata "Kak, mendingan kakak jangan sering bangun malem, tadi juga pas mamah kebangun malem, mamah denger ada yang ketawa-ketawa. Pokoknya kakak harus hati-hati."

 Sebenernya gue ini bukan type pembangkan, dan gak bermaksud membangkan, tapi meskipun sudah diperingati, gua tetep bangun malem, karena yang ketawa malem-malem itu gue sendiri.

Oke, sebenernya masih ada kisah lainnya, tapi berhubung kakak gue udah minta buat make komputernya dan sebagai adek yang baek dan tamvan, gue undur diri dulu.


Contact Author

Facebook : Salman Alparizzi
Instagram : @salmanalparizzi

Thursday, 1 September 2016

Cerita Horor Penakut Dilarang Masuk


Cerita Horor Penakut Dilarang Masuk

Cerita Horor Penakut Dilarang Masuk - Cerita merupakan karya sastra atau karya tulis yang banyak digemari. selain itu genre atau jenisnya pun ada banyak, ada horror, komedi, romance, dan sebagainya. Nah dalam artikel kali ini, saya mau membagikan salah satu cerita horor, yang ... bisa dibilang bikin mimpi buruk.

Oke, langsung aja ke ceritanya, selamat menikmati!

Dia Akan Datang
Oleh : Muhammad Salman Alparizzi


            Apa kamu bisa mengingat mimpimu?. Sebagian besar orang memang selalu melupakan mimpi yang mereka alami saat mereka terlelap, tapi mimpi buruk berbeda. Mimpi buruk selalu diingat oleh orang yang mengalaminya. Bahkan mimpi buruk terkadang meracuni pikiran orang yang dihampirinya.

            Aku pernah mengalami mimpi buruk, sangat buruk. Meskipun mimpi itu sangat menyeramkan, tapi aku hanya bisa mengingat sebagian kecilnya saja. Awalnya di mimpiku ada yang salah paham terhadapku. Kemudian aku bersembunyi dari sesuatu. Lalu aku bertemu dengan orang yang membawa kabar buruk.
           
            Aku sedang berduaan dengan novel horor yang baru aku beli. Mataku terus bergerak dari satu kata ke kata selanjutnya. Tanganku terus membuka lembaran demi lembaran kertas. Sampai akhirnya tidak terasa aku sudah selesai membaca novelku. Aku melempar pandanganku ke jam dinding yang memberitahuku bahwa sekarang sudah jam 7 malam. Aku beranjak dari tempat tidurku. Kemudian melangkahkan kaki menuju dapur.

            Aku berjalan melewati ruang tamu untuk sampai ke dapur. Mataku tidak sengaja melihat seorang perempuan dengan rambut coklat sebahu sedang duduk manis di sofa.
“Tamu dari mana?” pikirku dalam hati, tapi akhirnya aku masa bodo dengan wanita itu. Aku terus berjalan menuju dapur.

            Seperti biasa, aku mencuci tanganku di tempat cuci piring. Tiba-tiba saja pandanganku secara otomatis beralih ke samping kiriku. Aku melihat wanita itu sedang menatapku dalam. Aku langsung berjalan mundur, menciptakan jarak antara kami berdua. Dia perlahan tersenyum kepadaku. Rasanya aku pernah melihatnya.

            Semua lampu tiba-tiba mati menyala terus menerus. Rasa ketakutan langsung menyelimutiku. Aku berlari sekencang yang aku bisa, menuju pintu keluar. Akhirnya aku sampai di pintu keluar. Dengan nafas terengah-engah aku berusaha membuka pintu penyelamat itu, tapi sialnya pintu itu terkunci. Sepertinya orang tuaku mengira kalau aku tidak ada di rumah.

            Tiba-tiba telingaku memberitahuku bahwa ada yang berjalan menghampiriku. Aku langsung memutar leherku kebelakang dan melempar pandanganku ke sumber suara. Aku mendapati wajah hantu itu tepat di depan wajahku. Aku melihat matanya yang bolong dan seringainya yang mengerikan. Sontak aku langsung terjatuh oleh rasa terkejut dan takut. Kemudian aku perlahan merangkak menjauhi hantu itu. Dia terus memutar lehernya ke arahku. Lalu aku langsung melangkahkan kaki dengan cepat menjauhi hantu itu.

            Setelah berlari lumayan jauh, aku memutuskan untuk bersembunyi di bawah meja. Dengan nafas terengah-engah aku berusaha menenangkan diri, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa memikirkan apapun. Otakku benar-benar dipenuhi ketakutan yang luar biasa.

            Aku melihat kaki melayang melewatiku perlahan, tapi kaki itu tiba-tiba terhenti di tengah jalan, sebelum akhirnya dia melewatiku begitu saja. Aku akhirnya mengembuskan nafas lega. Tiba-tiba hantu itu mengejutkanku dengan kepalanya mengintip dari atas meja sambil berteriak kencang. Jantungku terasa mau hancur karena terkejut. Hantu itu perlahan berusaha meraih tubuhku.  Aku bergerak mundur berusaha menjauhi tangannya. Tangannya sedikir lagi menggapaiku. Tiba-tiba tangan hantu yang satunya lagi menangkapku dari belakang. Dia manarikku keluar dari meja, dan menghempaskanku ke dinding.

            Aku perlahan berusaha bangkit sambil terus menatap hantu yang membungkuk di atas meja yang tersorot cahaya mati menyala dari lampu di atasnya. Wajah pucatnya yang berpadu dengan rambut hitam berantakanm menambah keseramannya. Dia perlahan membuka mulutnya, memamerkan giginya yang seperti gergaji.
“Apa yang kau mau dariku?. Keluar dari sini!. Jangan ganggu aku!. Pergi!!” teriakku kesal
Hantu itu membalas ucapanku dengan teriakkan melengking yang menusuk gendang telingaku. Aku menutup telingaku menggunakan telapak tanganku, tapi suara itu tetap menusuk ke dalam telingaku. Kemudian hantu itu melayang pergi menembus dinding, bersamaan dengan suaranya yang perlahan menghilang.

            Tiba-tiba saja pintu terbuka dan lampu menyala dengan normal. Aku perlahan berdiri. Kemudian melangkahkan kaki keluar dari rumah ini. Aku mendapati ibuku bersama dengan barang belanjaannya. Aku menatap ibuku dalam. Saranya senang sekali. Aku tidak bisa menjelaskan perasaanku ini, yang jelas aku sangat senang.
“Kamu kenapa, nak?” tanya ibuku khawatir
“Tadi ada yang mencari kamu, tapi sekarang dia malah tidak ada,” ucap ibuku sambil menaruh barang belanjaanya di dekat pintu. Aku melihat hantu yang tadi, sedang berdiri di belakang ibuku sambil melambaikan tangannya kepadaku.
“Pertama, ibu salah paham terhadapku, ibu beranggapan kalau aku tidak ada di rumah. Kemudian aku bersembunyi dari sesuatu. Lalu ibu datang membawa kabar buruk. Rasanya aku pernah mengalami hal ini. Akhirya aku ingat, aku pernah mengalami hal ini di mimpiku,” ucapku pelan
“Kamu kenapa jadi aneh begitu?. Ibu sedang buru-buru, jadi ibu tinggal lagi ya.” Ucap ibuku sambil berjalan meninggalkanku. Entah kenapa aku tidak bisa mengeluarkan suara untuk menahan ibuku pergi atau berusaha menahannya. Sekujur tubuhku rasanya kaku.

            Akhirnya aku ingat serpihan kecil dari mimpiku. Di akhir mimpiku, aku mati secara mengenaskan dengan usus keluar dari tubuhku dan luka yang menghiasi sekujur tubuhku.
“Kenapa aku mengalami semua hal ini?. Kenapa aku bermimpi seperti itu?”
“Datanglah, datanglah. Bawa mimpi yang sama. Datanglah, datanglah. Bawa akhir yang sama” aku ingat aku membaca mantra itu dalam hati, pada sebuah cerita yang berjudul “Dia Akan Datang”, sebelum akhirnya mimpi buruk itu menghampiriku, dan disusul oleh hantu itu.

            Aku memutar mataku ke hantu itu. Dia melayang menghampiriku perlahan. Aku rasa aku tidak perlu menjelaskan akhir dari kisahku, karena nanti kau juga akan mengalami akhir yang sama denganku. Selamat tidur, semoga kau bermimpi buruk.


- Tamat -

Gimana ceritanya?? Ditunggu komentar yang 'sopan'nya, ya :)

Eits, jangan kabur dulu, baca-baca cerita yang lainnya dong, biar tambah merinding and rame

I'm NOT a Monster!!! (Psychopath story)
Five Days At Fredy (Boneka Hantu)
Liburan Pembawa Kesenangan Dalam Kematian
200 Berbanding 2 (Cerita Hantu)

Saturday, 7 May 2016

Cerpen Cerita Misteri Detektif Keren Abis

Cerpen Misteri Detektif Keren Abis


Cerpen Misteri Detektif Keren Abis - Yo, guys, selamat datang di blog absurd gue. Di artikel kali ini gue mau bagiin cerita, lebih tepatnya cerpen yang bergenre misteri. Misteri pastinya menjadi daya tarik tersendiri, ya guys. Kemisteriusan bisa bikin penasaran, gimana aja cowok misterius yang suka dikejar-kejar cewek kayak admin *jduak. Oke, sebelum ke ceritanya, admin mau bahas dikit mengenai cerpen.

Cerpen atau cerita pendek adalah sebuah karya tulis yang cukup banyak penggemarnya, apalagi kalau di luar negeri, tapi kalau di Indonesia, buset, peminatnya dikit, maklum, orang yang suka baca di Indonrsia itu 1 berbanding 10.000. Mantap, 'kan?

Cerpen itu ada banyak jenisnya. Contohnya kayak Cerpen Komedi, Cerpen Horror, dan lain-lain. Nah, seperti judul dalam artikel ini, kali ini gue mau bagiin cerpen misteri.

Oke, guys, sekian basa-basinya, selamat menikmati cerpennya.

Liburan Pembawa Kesenangan Dan Kematian

            Kenapa ini terjadi?. Liburan ini berjalan dengan lancar sampai salah satu teman kami, Styve, tiduran di lantai dengan darah yang menghiasi sekujur tubuhnya, benar, dia dibunuh. Terus terang, ini pertama kalinya aku melihat kejadian seperti ini.

            Awalnya liburan kami di villa ini baik-baik saja, tapi tiba-tiba saja hal ini datang bersamaan dengan datangnya malam.
“Liburan ini semakin menarik,” gumam Alpa pelan
“Sebelumnya hal ini belum pernah terjadi di villaku. Ini malam pertama kita disini, dan hal ini sudah terjadi. Sebenarnya siapa yang melakukan hal ini?” tanya Garin cemas
“Mana aku tahu. Yang jelas pelakunya ingin memberikan kita sebuah rasa ketakutan,” jawab Griss dingin sambil memotret mayat Styve
“Hah?. Apa maksudmu?” tanya Garin lagi
“Lihatlah,” jawab Griss sambil menunjuk sebuah tulisan ancaman dari darah pada dinding di dekat mayat Styve. Tulisan itu berbunyi “Mati saja kalian”
“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Garin bingung
“Pelakunya pasti salah seorang dari kita, jadi kita bongkar kedoknya sebelum ada nyawa yang melayang lagi. Rika dan Silvi belum mengetahui hal inikan?” ucap Griss
“Ya, belum,” jawabku pelan
“Kalau begitu kita beritahu mereka,” ucap Griss datar
“Tunggu dulu, jika kita memberitahu mereka, akan terjadi kepanikan, ditambah lagi mereka akan sangat sedih,” sangga Garin
“Kita tidak boleh menutupi kebenaran, dan semakin lama mereka mengetahuinya, semakin besar kesedihan yang akan mereka alami,” balas Griss sambil melangkahkan kaki menuju ruang tengah dimana Silvi dan Rika berada, disusul oleh aku dan Garin
“Ayo cepat,” ucap Griss kepada Alpa
“Kalian duluan saja, aku mau mengumpulkan petunjuk.” Balas Alpa

            Setelah melangkahkan kaki selama beberapa saat, akhirnya kami sampai di ruang tengah. Dimana Silvi, dan Rika berada. Mereka sedang duduk di sofa sambil saling melempar canda.
“Ada apa?” tanya Rika yang mulai sadar kalau ada yang tidak beres
“Styve ..., dia,” ucap Garin pelan
 “Mati,” sambung Griss datar. Silvi dan Rika langsung memasang wajah bengong yang menunjukan bahwa mereka tidak percaya dengan hal ini. Kemudian Silvi perlahan meneteskan air mata kesedihan.
“Woy! Apa hatimu itu terbuat dari baja?” bentak Garin marah
“Sudah-sudah tenang,” ucap Rika kepada Silvi
“Yo, gue datang. Semua alat komunikasi sudah dihancurin dan semua jalan keluar termasuk jendela di tutup balok kayu yang udah dipaku,” ucap Alpa sambil duduk di sofa depan Silvi dan Rika
“Untuk melakukan semua hal itu pastinya memerlukan waktu yang tidak sedikit” jelas Griss
“So?” tanya Alpa singkat
“Dimana dan dengan siapa kalian selama 2 jam terakhir?” tanya Griss dingin
“Kalau akusih, sedang tidur di kasur,” jawab Alpa
“Ya, tadi aku sedang bermain tablet di dekat Alpa yang sedang tertidur,” balas Garin
“Ouh ya. Kalau kau, Carter?” tanya Griss kepadaku
“Bukankah tadi aku mengobrol denganmu di dapur,” jawabku bingung
“Aku hanya mengetesmu. Kalau kau, Silvi?” tanya Griss dingin
“Woy! Silvi tidak mungkin membunuh pacarnya sendiri,” bentak Garin marah
“Sebenarnya, orang yang membunuh orang yang dia sukai itu sangatlah sering terjadi. Pembunuhan karena rasa cemburu, bertepuk sebelah tangan, dan hal lainnya. Tidak ada yang bisa menjamin kalau Silvi tidak melakukan hal itu,” balas Griss datar
“Aku mengobrol dengan Silvi dari tadi!” balas Rika
“Ouh ya. Baiklah,” ucap Griss sambil duduk di samping Alpa
“Well, tadi aku menemukan hal yang menarik,” ucap Alpa sambil mengeluarkan 3 buah kartu dari saku jaket putihnya. Kemudian membariskan kartu itu di atas meja.

            Alpa membariskan kartu 5 hati, 5 wajik, dan 6 keriting. Lantas ada apa dengan kartu-kartu itu?. Jujur saja, meskipun aku sudah memperkerjakan otakku dengan sangat keras, tapi aku sama sekali tidak mengerti hal ini.
“Aku menemukan ini di saku Styve. Permainan ini menjadi semakin menarik,” ucap Alpa pelan
“Woy! Kau menganggap ini permainan? Kenapa kau bisa tenang begini?” tanya Garin marah
“Bukankah sudah jelas pembunuhnya ingin mengajak kita bermain. Lagipula kita disini untuk berlibur. Jadi kita nikmati saja liburan ini, karena ini bisa saja menjadi liburan terakhir kita,” balas Alpa
“Mungkin ini juga bisa menjadi petunjuk,” ucap Griss sambil menunjukan foto mayat Styve dari kameranya
“Well, Styve memang suka bermain kartu. Sepertinya dia sengaja menyimpan kartu ini sebagai petunjuk. Masalahnya, apa maksud dari kartu ini,” ucap Alpa
 “Ini sederhana saja,” balas Griss datar
 “Jadi, siapa pelakunya?” tanya Garin penasaran
“Kau,” jawab Griss datar
“Hah?. Apa maksudmu?” tanya Garin bingung
“Sederhana saja. Setiap kartu-kartu ini mewakili orang yang terlibat dalam hal ini,” jawab Griss
“Hoy. Jangan membuatku semakin bingung,” ucap Garin
“Kartu 5 hati, angka 5 merupakan inisial, dengan kata lain, angka 5 itu berarti S. Sedangkan hati bisa dibilang mewaliki perasaan Styve, dengan kata lain 5 hati itu mewakili Silvi. Lalu 5 wajik, angka 5 disini juga mewakili inisial. Persamaan warna wajik dan hati menunjukan kalau orang yang diwakili kartu ini memiliki hubungan dengan Silvi, dengan kata lain kartu 5 wajik mewakili Styve. Dan yang terakhir, kartu 6 keriting, ini mewakili pelaku. Angka pada 2 kartu sebelumnya merupakan inisial, begitu juga dengan kartu ini. Bisa dibilang angka 6 adalah huruf G, tapi disini ada 2 orang yang berawalan huruf G, yaitu aku dan kau. Styve menambahkan hubungan dirinya dengan Silvi, itu artinya pelakunya ada kaitannya dengan hubungan mereka. Dan disini yang berawalan huruf G dan memiliki kaitan dengan hubungan mereka adalah kau. Bukankah kau sudah lama menaruh perasaan kepada Silvi, tapi kau tidak pernah mengatakannya karena Silvi sudah memiliki pacar, yaitu Styve. Pada akhirnya kau menyingkirkan Styve” jelas Griss dingin, membuat kami terpaku mendengarnya
“Tadi kau bilang kalau kau bermain tablet di dekatku, tapi aku sedang tidur, jadi mana mungkin aku bisa tahu kalau kau benar-benar berada di dekatku. Villa ini juga milikmu, jadi besar kemungkinan kalau kau sengaja menjebak kami disini,” tambah Alpa
 “Aku tidak melakukannya!” sangga Garin sambil sedikit melangkah mundur
 “Jadi kalian tidak mempercayaiku, ya?”
“Atau jangan-jangan kalian sengaja menjebakku?” tanya Garin sambil meraih cutter yang sedang menganggur di atas meja di dekatnya
 “Yo, jadi pelakunya sudah ditetapkan,” ucap Alpa sambil beranjak dari sofa
Alpa memutar matanya, menatap kami satu persatu. Kemudian berkata “Jadi hanya aku saja yang akan mengurusnya. Baiklah,”. Alpa perlahan melangkahkan kakinya menuju Garin
“Apa yang mau kau lakukan?” tanya Garin gugup

            Garin mengayunkan cutternya, dan dengan santai Alpa menangkap pergelangan tangan Garin. Kemudian memutarkan tangan Garin. Lalu Alpa mematahkan tangan Garin di bagian siku menggunakan lututnya. Setelah itu Alpa memberikan tendangan keras yang membuat Garin membentur dinding. Alpa perlahan membungkuk dan meraih cutter Garin yang terjatuh ke lantai.
“Sialan!” teriak Garin sambil berlari mengahampiri Alpa

            Garin memberikan sebuah pukulan di wajah, tapi Alpa dapat menghindari pukulan itu dan membalasnya dengan sebuah tebasan di leher yang membuat darah mengalir dengan derasnya.
“Diamlah,” bisik Alpa kepada Garin
“Sayang sekali pilihan kalian salah,” ucap Alpa sambil menarik cutternya dan membiarkan Garin terjatuh begitu saja
“Liburan ini memang sangat menyenangkan, tapi bagian terserunya baru akan dimulai.” Ucap Alpa sambil memutar lehernya menghadap kami dan memamerkan seringainya yang mengerikan.

            Kali ini dia berhasil mempermainkan kami. Sepertinya Garin yang sibuk dengan tabletnya sama sekali tidak sadar kalau Alpa beranjak dari kasurnya, lagipula Alpa bisa saja mengganti dirinya menggunakan bantal atau guling.
“Hm?. Bukankah disaat seperti ini, kau harus lebih panik daripada itu?. Kenapa kau bisa setenang itu?” tanya Alpa sambil menatap Griss tajam
“Sederhana saja. Sebelum kita berkumpul disini aku sudah mencurigaimu,” jawab Griss datar
“Hm,” ucap Alpa tanpa membuka mulutnya sedikitpun
“Setelah kita menemukan mayat Styve, kau tidak langsung kemari bersama kami, tapi kau berkata kalau kau mau mengumpulkan petunjuk sendirian. Jika aku jadi kau, aku pastinya tidak akan melakukan hal itu, karena pembunuhnya bisa saja mengincar nyawaku saat aku sedang sendirian seperti itu, tapi kau tenang-tenang saja, karena kau tahu bahwa kaulah pembunuhnya,” balas Griss tenang
“Ditambah, kartu yang kau bawa tidak memiliki noda darah sedikitpun, sedangkan saku Styve bisa dibilang terlumuri darah. Tadi aku memperlihatkan foto mayat Styve untuk menunjukan bahwa di saku Styve terdapat banyak noda darah, tapi sepertinya kodeku itu terlalu sulit dipahami. Tadinya aku mau menipumu dengan berpura-pura tidak tahu kebenarannya dan terbawa permiananmu, tapi malah teman-temanku yang tertipu. Tadi aku juga sempat berpikir kalau Garin bisa mengalahkanmu, tapi ternyata aku salah besar,” lanjut Griss sambil beranjak dari sofanya
“Ternyata kau memang pintar,” puji Alpa
“Meskipun otakku ini memang hebat, tapi sayangnya tubuhku ini tidak terlalu hebat, jadi sebaiknya kalian pergi selagi aku mengulur waktu. Tadi saat aku berjalan kemari, aku melihat jendela dapur yang di tutup balok kayu yang ukurannya lumayan kecil, mungkin kalian bisa pergi lewat sana,” suruh Griss. Tidak pernah terlintas dipikiranku kalau Griss itu orangnya sangat peduli dengan orang lain. Padahal dia bisa saja melarikan diri sendirian, tapi dia malah menyuruh kami untuk pergi. Orang seperti dia pasti sangat jarang
“Aku akan memberikan kalian waktu 2 menit untuk pergi. Dimulai dari 2 menit yang lalu.” Ucap Alpa sambil memasang seringainya

            Alpa melontarkan cutternya. Cutter itu menancap tepat di perut Griss. Tidak memerlukan waktu yang lama untuk Alpa berlari kehadapan Griss, lalu memegang cutter yang masih menancap di perut Griss sambil menggeser cutternya ke atas, mengoyak tubuh Griss. Pada akhirnya Griss terjatuh tak berdaya dalam hitungan detik.

            Alpa perlahan melangkahkan kaki menuju kami. Entah kenapa rasanya kakiku ini sangat sulit untuk digerakkan, sepertinya ketakutan telah membekukan kakiku ini. Tiba-tiba saja tangan Griss memegang kaki Alpa, memotong langkah kakinya. Alpa perlahan memutar lehernya ke arah Griss.
“Cih!. Lepaskan,” ucap Alpa sambil menendang Griss, tapi genggaman tangan Griss sama sekali tidak terlepas. Akhirnya Alpa mendaratkan tendangan kepada Griss sambil berteriak “Lepaskan! Lepaskan!” secara bertubi-tubi. Melihat kesempatan emas itu aku langsung menarik tangan Rika dan Silvi sambil berlari menjauhi Alpa.

            Kami berlari, berpacu dengan waktu dan didorong rasa ketakutan. Akhirnya kami sampai di hadapan jendela dapur yang terhalang balok kayu kecil yang menempel tepat di tengah-tengahnya. Aku berusaha mematahkan balok kayu itu dan memecahkan jendelanya dengan semua kekuatanku. Banyangkan saja, ada pembunuh gila yang sedang mengincar nyawaku saat ini.

            Aku memutar leherku ke belakang. Aku mendapati bayangan Alpa di luar pintu dapur. Jelas sekali waktunya tidak akan cukup. Akhirnya aku, Silvi, dan Rika bersembunyi di bawah meja. Alpa perlahan melangkahkan kakinya, memasuki ruangan ini. Tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti mendadak di tengah-tengah ruangan, hal itu membuat jantungku semakin berdebar kencang.
“Dimana kalian?. Cepat keluarlah. Carter, dimana kau?. Kau tidak usah takut kepadaku. Kita sudah berteman sejak lamakan.” Ucap Alpa sambil memainkan cutternya

            Aku memutar mataku ke Silvi yang memasang tatapan kosong. Kemudian aku melempar pandanganku ke jam yang menempel di tanganku, jam itu berkata bahwa sekarang sudah pukul 10 malam. Ayahku sepertinya sedang berada dalam perjalanan pulang. Dia pastinya melewati tempat ini menggunakan motornya, dan dia tahu kalau aku menginap disini. Itu artinya masih ada kesempatan. Saat aku melihat cahaya di jendela yang berasal dari motornya. Aku harus membuat sebuah suara yang bising. Kemudian ayahku langsung membantu kami, dan hidup kamipun terselamatkan, tapi bagaimana kalau ternyata cahaya yang aku lihat bukan berasal dari ayahku? Jika cahaya yang aku lihat berasal dari orang yang peduli, mungkin kami masih bisa selamat, tapi jika orang itu sama sekali tidak peduli, itu artinya pemainan berakhir.

            Aku melempar pandanganku ke jendela. Tidak lama kemudian aku mengoper pandanganku ke samping.
“Apa yang sedang kau lihat?” tanya Alpa yang sedang membungkuk di sampingku.

            Secara otomatis aku langsung keluar dari bawah meja bersama dengan Silvi. Aku mendapati Rika sudah diurus oleh Alpa. Alpa perlahan keluar dari bawah meja sambil menatap kami tajam. Tiba-tiba saja aku melihat cahaya dari jendela.

            Alpa mengayunkan cutternya kepadaku. Aku langsung menahannya menggunakan tanganku. Cutter itu merobek kulitku dalam dan membuatku langsung berteriak kesakitan sekeras mungkin. Jika cahaya itu memang berasal dari motor ayahku, teriakkanku ini akan langsung mengubah tujuannya kemari. Untung saja, itu memang ayahku. Aku melihat ayahku yang membelokan motornya dan dengan cepat menuju kemari.

            Ayahku langsung beranjak dari motornya, membiarkan motor itu tergeletak di tanah. Dia meraih sebuah batu besar yang menganggur di tanah. Kemudian melayangkan batu itu ke jendela. Setelah jendela itu berpencar, ayahku melemparkan stun-gun kepadaku. Aku menendang Alpa, menciptakan jarak antara kami. Lalu dengan sigap aku mengambil benda itu. Kemudian dengan cepat aku menempelkan benda itu ke Alpa dan “Drrt”. Alpa akhirnya pingsan tak berdaya.

            Setelah kejadian itu aku, dan Silvi berhasil keluar dari villa itu. Aku dan Silvi menunggu polisi datang di halaman villa. Liburan ini adalah liburan yang paling mengejutkan, tapi entah kenapa setelah melalui semua hal tadi rasanya menyenangkan.

            Tiba-tiba saja Silvi mengajakku untuk masuk kembali ke villa dengan alasan ingin melihat mayat Styve. Tanpa pikir pandang aku langsung menuruti kemauannya itu. Setibanya di hadapan mayat Styve, Silvi hanya diam mematung.
“Aku tahu ini bukan saat yang tepat, tapi setelah mengalami semua kejadian ini, aku sadar kalau aku bisa mati kapan saja. Silvi, aku sangat menyukaimu, apa kau mau menjadi pacarku?” tanyaku serius
“Apa kau serius?” tanya Silvi pelan
“Ya, tentu,”
“Kau pikir kenapa aku sampai mempengaruhi Alpa untuk melakukan semua hal ini. Aku bahkan membohongi diriku sendiri,” lanjutku dalam hati sambil memasang sedikit senyum. Untuk membohongi orang lain, kau harus membohongi dirimu sendiri. Cara itu sangat ampuh, buktinya aku berhasil membohongimu
“Maaf, aku tidak bisa menjadi pacarmu,” jawab Silvi, menghapus senyum di wajahku
“Aku sangat mencintai Styve, meskipun dia sudah mati. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri,” lanjut Silvi sambil membungkuk dan mengelus mayat Styve
“Begitu ya,” ucapku pelan sambil kembali memasang senyum dan bebalik
“Aku tidak tahu apa yang kau katakan itu benar atau salah, tapi aku yakin kalimat ‘aku tidak bisa membohongi diriku sendiri’ itu salah. Buktinya aku bisa membohongi diriku sendiri dengan berpikir dan bertingkah seolah aku sama sekali tidak ada hubunganya dengan pembunuhan ini. Untuk membohongi orang lain, kau harus membohongi dirimu sendiri,” ucapku sambil memutar leher ke arah Silvi
“Apa maksudmu?”
“Sederhana saja. Aku dan Alpa sudah berteman sejak lama. Seiring berjalannya waktu, aku menggeser kepribadiannya. Dan aku berhasil mempengaruhinya, membuatnya melakukan semua hal ini,”
“Kenapa kau sampai melakukan semua ini?”
“Tentu saja untuk mendapatkanmu. Aku pikir, hanya orang gila yang akan menolak penyelamatnya demi mayat, dan ternyata kau ini orang gila, jadi aku pikir meskipun aku memaparkan semuanya tidak akan ada masalah. Tidak ada yang akan percaya kepada orang gila. Lagipula meskipun polisi menaruh curiga terhadapku, mereka tidak akan bisa menangkapku karena tidak ada bukti sama sekali,”
“Kau sama sekali tidak mengerti. Kau mengorbankan teman-temanmu untuk hal yang sama sekali tidak membuatku senang!”
“Tidak ada orang yang mengerti orang lain melebihi orang itu sendiri. Jadi jangan salahkan aku jika aku tidak mengerti dirimu, karena kau juga tidak akan mengerti diriku. Dan untuk meraih sesuatu, kau harus mengorbankan sesuatu. Meskipun tidak ada jaminan kau bisa meraih sesuatu itu. Sejujurnya sekarang aku sudah tidak menaruh perasaan padamu, tidak semestinya aku menaruh rasa kepada orang gila,”
“Aku tidak gila, kaulah yang gila!. Bukankah tadi kau juga hampir mati!”
“Tidak ada orang gila yang sadar bahwa dirinya gila. Dan kau pikir orang yang dikendalikan nafsunya bisa membunuhku? Bisa dibilang dalam kejadian tadi Alpa adalah singanya, dan aku adalah hyena yang mengambil hasil buruan sang singa,” balasku sambil memalingkan wajah dan melangkahkan kaki

            Pada akhirnya polisi tidak mencebloskan Alpa kepenjara. Polisi hanya mengirimnya ke tempat dimana orang-orang seperti dia berkumpul, benar, rumah sakit jiwa. Pada awalnya kisah liburanku ini menjadi bahan pembicaraan di berbagai tempat, sampai akhirnya terhapuskan oleh waktu.

            Begitulah liburan menyenangkanku berakhir. Liburanmu akan sama menyenangkannya dengan liburanku, selama kau menganggapnya menyenangkan. Nikmatilah liburanmu, karena mungkin saja liburanmu itu akan menjadi liburan terakhirmu.


- Tamat -

Itu dia cerpen yang saya buat. Jika Kamu Mau Melihat Cerpen-Cerpen Yang Lain, Bisa Lihat Di ->  Kumpulan Cerpen


Dan Jika Kamu Tertarik Untuk Membuat Cerpen, Artikel ini akan sangat membantu -> Tips dan Cara Membuat Cerpen

Oke, sekian artikel kali ini ya guys. Jangan lupa buat add akun FB gue disini -> Salman Alparizzi  atau tambahin gue ke lingkaran google plus lo. Oke guys, thanks for your visit!

Saturday, 30 April 2016

Cerita / Cerpen Horor Psychopath Keren Sadis

Cerita Horor Psychopath Keren Sadis


Cerita Horor Psychopath Keren Sadis - Cerpen (ceria pendek), bisa dikatakan salah satu karya tulis yang banyak digemari. Hal itu wajar saja, mengingat cerpen atau cerita itu banyak rasa atau genrenya, ada horor, comedy, action, fantasi, dan kawan-kawannya. Nah, kali ini, saya akan membagikan sebuah cerita horor yang sudah dijamin keren and sadis. Oke selamat menikmati!

I’m Not a MONSTER!
Hay. Perkenalkan, aku ..., siapa, ya? Entah siapa aku ini, tapi mungkin dengan menulis ulang kisah yang aku alami dapat membuatku ingat siapa aku ini.

Aku terlahir di keluarga dengan orang tua yang memiliki hobby bertengkar. Melempar cacian dan makian adalah rutinitas mereka. Saat itu terjadi aku hanya bisa diam di balik kursi sambil menangis dan berharap kalau mereka akan berbaikan, tapi harapanku tidak pernah menjadi kenyataan. Entah bagaimana aku bisa bertahan di medan perang itu.

Rumahku sangat hancur, tapi lingkunganku tidak kalah hancur. Mereka memanggilku “Culun” hanya karena aku tidak berani merokok, mabuk, dan hal lain yang biasanya mereka lakukan. Mereka mengambil uangku dan terkadang menjadikanku pelampiasan. Meskipun aku kesal, tapi aku tidak bisa melakukan apapun terhadap hal itu.

Saat usiaku 9 tahun, aku mendapatkan seorang adik laki-laki. Saat dia kecil perpecahan antara orang tuaku sudah mulai mereda, karena ayah jarang datang ke rumah. Aku kira adikku akan membuat situasi lebih baik, tapi ternyata dia adalah iblis kecil. Dia selalu berbohong supaya aku dimarahi ibu. Tentu saja ibuku yang bodoh mempercayai kebohongannya. Ibu bilang “Adikmu itu masih kecil, gak mungkin ngebohong kayak kamu!”

Ditindas di rumah, dianiyaya di lingkungan, dikucilkan di sekolah, pelecehan seksual, dan menjadi pecundang. Tentu saja hal itu membuatku depresi. Setiap malam aku selalu sulit tidur karena mendengar bisikan aneh yang mungkin disebabkan hal-hal buruk yang datang kepadaku.

Waktu terus bergulir. Saat aku SMA, untuk pertama kalinya aku mendapatkan sahabat. Dia menarikku keluar dari jurang yang gelap. Kami selalu bersama dan menceritakan banyak hal. Saat SMA pun aku merasakan yang namanya cinta pertama. Tentu saja aku menceritakannya kepada sahabatku. Akan tetapi, saat itu terjadi, rasanya semua itu berubah terlalu cepat.

Saat itu kami dipalak oleh 3 preman, Deni, Doni, dan Andri di sebuah gang yang sepi. Mereka sudah terkenal akan kebengisannya, jadi wajar saja jika aku mengetahui nama mereka. Bahkan menurut kabar angin yang aku dengar, mereka sudah 4 kali keluar-masuk penjara. Aku meraih uangku untuk diserahkan kepada mereka, tapi Arik menahan tanganku.
“Jangan, jika kita menuruti kemauan mereka, mereka akan terus menindas kita,” tegas Arik
“Jadi kau berani melawan kami hah!” Doni itu memberikan pukulan keras tepat di wajah Arik dan membuatnya terpental cukup jauh. Andri dan Deni langsung menghampiri Arik dan mendaratkan tendangan beruntun di sekujur tubuhnya
“Cepat mana uangnya. Kau tidak mau berakhir seperti temanmu’kan?”
“Aku tidak mau ..., kembali kesana,”
“Hah?”
“Aku tidak mau kembali kesana!”

Aku berlari ke arah Arik dan menendang Andri. Lalu menghajar Deni. Tanpa jeda yang lama Doni langsung menghajarku dan membuatku tiduran di jalan. Aku tidak mau kembali ke saat dimana aku tersiksa. Aku meraih batu besar kemudian berdiri sambil melemparkan batu itu ke Doni. Aku berhasil mengenainya, tapi dia tidak terjatuh. Aku berlari lalu melompat ke arahnya sambil mencengkram kepalanya dan membuatnya terjatuh ke tanah. Aku meraih pulpen di saku baju, lalu menancapkannya pada mata kirinya. Aku tidak terlalu yakin, tapi sepertinya pulpen itu menyentuh otaknya. Masih belum aku menarik pulpenku dan mendaratkan tusukan beruntun di tubuhnya dan berteriak “Hentikan! Hentikan! Kau bisa membunuhnya! Kau tidak tahu rasanya sendirian! Kau tidak tahu rasanya hidup di neraka!”
“Bocah sialan!!! Beraninya kau melakukan ini brengsek!!!” Doni memberontak dan berhasil melepaskan diri

Tiba-tiba saja ada orang yang memegangiku dari belakang. Aku melihat Andri di depanku dengan botol di tangan kananya. Jadi di belakangku Deni, ya? Aku menendang tulang kerinya menggunakan kaki belakangku. Lalu menghantam pelipisnya menggunakan siku. Kemudian disusul dengan cengkraman di kepala yang membuat kepalanya terbentur ke dinding gang. Masih belum, aku memarut kepalanya menggunakan dinding gang yang bergerigi itu. Ternyata kemalasan seseorang meratakan dinding bisa menguntungkanku.
“Preng!” pandanganku mendadak kabur. Aku menyentuh kepalaku dan mendapati darah yang berlimpah. Seringai tiba-tiba saja terbentuk di bibirku. Aku memutar pandanganku ke Andri yang berdiri di depanku
“Hahaha! Rasanya sangat sakit, tapi rasa sakit karena luka tidak sepadan dengan rasa sakit karena sendiri. Kau mau mencobanya?” Andri perlahan menjaga jarak denganku.

Tiba-tiba saja Doni berlari ke arahku dengan satu mata sambil mengumpatku. Aku perlahan bergeser dan memberinya tendangan keras di kemaluannya sampai dia bersujud. Lalu aku mendaratkan tendangan keras di kepalanya.
“Tidak sopan memotong pembicaraan orang lain.” Ucapku pelan. Entah kenapa aku bisa setenang ini, padahal kepalaku masih mengeluarkan darah.

Tiba-tiba Andri mengarahkan apa yang tersisa dari botolnya ke leherku. Aku bergeser dan berhasil menghindarinya. Aku menghajar hidungnya menggunakan siku. Aku yakin pandangannya menjadi kabur. Aku merebut sisa botol itu dan mengarahkannya ke leher Andri. Tiba-tiba saja gerakan tanganku berhenti di tengah-tengah. Rasanya ada yang aku lupakan. Aku melempar pandanganku ke arah Arik. Dia sedang menatapku dengan penuh ketakutan. Aku akhirnya hanya menancapkan sisa botol ini ke kepala Andri. Aku melihat sekeliling. Banyak sekali warna merah.

Keesokan harinya Arik tidak menghubungiku atau pun menemuiku. Aku mendapat kabar kalau dia berpacaran dengan orang yang aku suka. Ini benar-benar memuakkan. Rasanya aku ingin mati, tapi aku takut mati. Cih, menyedihkan sekali aku ini. Ini adalah kehidupanku, jika aku ingin merubahnya aku harus mengubah diriku.

Akhirnya aku menemukan sebuah cara untuk mendapatkan kebahagiaan, yaitu dengan mengambilnya dari orang lain. Perlahan diriku mulai berubah, dan akhirnya aku tidak mengenali diriku lagi. Aku perlahan membenci diriku sendiri yang tak menentu. Bertanya-tanya, apakah aku adalah aku?
Aku tidak tahu siapa aku ini, yang jelas I’m Not A Monster
Aku hanyalah korban sosial
I’m Not A Monster
Aku hanyalah orang yang tidak merasakan kasih sayang
I’m Not A Monster
Aku hanyalah orang yang terlalu lama berada dalam jurang yang
gelap
I’m Not A Monster
Aku hanyalah orang yang tidak bisa mempertahankan kebahagiaanku
I’m Not A Monster
Aku hanyalah orang yang tidak bisa bertahan di dunia ini
I’m Not A Monster
Aku hanyalah orang yang mempercayakan hidupku kepada orang asing yang berada dalam diriku
I’m Not A Monster, I'm just a PSY-CHO-PATH

- End -


Itu dia cerpen yang saya buat. Jika Kamu Mau Melihat Cerpen-Cerpen Yang Lain, Bisa Lihat Di ->  Kumpulan Cerpen


Dan Jika Kamu Tertarik Untuk Membuat Cerpen, Artikel ini akan sangat membantu -> Tips dan Cara Membuat Cerpen

Oke, sekian artikel kali ini, jangan lupa untuk mampir lagi dan baca cerita-cerita menarik lainnya yang tersedia disini.


Wednesday, 13 April 2016

Cerpen Horor Seram 2016

Cerpen Horor Seram 2016

Cerpen Horor Seram 2016 – Cerpen adalah salah satu karya tulis yang cukup digemari banyak orang. Selain itu cerpen juga memiliki banyak rasa atau genre, atau komedi, horror, romance, dan lain-lain.

Dalam cerpen atau cerita pedek terdapat beberapa tokoh dengan keunikannya masing-masing dan perannya masing-masing.

Baiklah dalam artikel kali ini, saya akan membagikan sebuah cerpen horror yang saya buat, selamat menikmati.

2 Berbanding 200
Oleh : Muhammad Salman Alparizzi

            Sang raja siang sedang sangat bersemangat tepat di atas kepalaku. Aku hanyalah orang biasa diantara orang biasa lainnya. Aku memiliki kehidupan dan keluarga yang normal. Namaku Stive, dan Aku adalah pria yang normal. Aku berjalan menuju sebuah mini market untuk membeli beberapa makanan penggaljan perut. Sepanjang jalan Aku menemui banyak orang yang tidak Aku kenal. Mereka sering membicarakan hal yang menurutku tidak penting, seperti sekarang ini.
 “Aku dengar ada perampokan di sebuah mini market,“
 “Aku dengar ada pembunuhan berantai. Ada kakak beradik yang mati dalam waktu yang tidak jauh berbeda dan polisi masih belum mengambil jasad mereka.“
Aku tidak peduli dengan ocehan mereka. Aku juga tidak percaya dengan omongan mereka.

            Angin sejuk mini market menyapaku dengan lembut. Aku melangkahkan kakiku menyusuri toko ini sambil meraih beberapa makanan. Aku berjalan perlahan menuju kasir untuk menebus makananku ini. Wanita penjaga mesin kasir itu perlahan mengurusi makanan yang hendak Aku beli.
 “Semuanya jadi 15.000,“ ucap wanita pelan
“Tentu.“ Balasku sambil memberinya uang pas dan mengambil makananku.

            Aku berjalan perlahan keluar dari mini market ini, tapi langkahku terhenti mendadak. Aku merasa ada sesuatu di belakangku. Aku langsung berbalik dan melihat wanita kasir itu berdiri mematung di belakangku.
“Ada apa?. Apa Kau tidak sehat?“ tanyaku gugup, dan wanita itu hanya menggangguk
“Maaf, Aku tidak bisa menolong, tapi Aku bisa mengantarmu ke rumahmu.“ Ucapku tanpa pikir panjang

            Wanita itu berjalan perlahan melewatiku keluar dari toko ini dengan Aku menyusul di belakangnya seperti ekor. Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya kami sampai di sebuah rumah tua besar. Hawa mistis menyelimuti rumah itu. Aku bahkan tidak mau berada di depan rumah ini lebih lama lagi.
“Mampirlah dulu,“ ajak wanita itu dingin
“Tidak perlu,“ sanggaku sambil tersenyum kaku
“Aku memaksa.“ Ucapnya sambil berjalan memasuki rumah. Akhirnya Aku masuk ke rumah itu. Rasanya ada tali tak telihat yang menarikku masuk.

            Aku melihat sekililing rumah yang terselimuti debu ini. Suasana disini sangat hening dan mencekam.
“Duduklah,“ suruh wanita itu.
“Tentu,“ balasku sambil duduk di sofa yang usang.
“Aku akan mengambil minuman dulu.“ Ucap wanita itu sambil berjalan perlahan meninggalkanku sendiri di rumah mengerikan ini.

            Tiba-tiba Aku mendengar sebuah jeritan yang melengking. Aku langsung beranjak dari tempat dudukku dan berlari menunju sumber suara. Setelah melangkahkan kaki selama beberapa saat, akhirnya Aku sampai di depan sumber suara. Aku melihat perempuan yang tadi sedang di siksa oleh seorang pria. Kaki tangan wanita itu dipaku di dinding, dan darah menghiasi sekujur tubuhnya. Aku sangat ketakutan dan langsung bersembunyi di balik dinding. Keringat dingin perlahan melintas di pipiku.

            Rasa penasaranku memaksaku untuk mengintip. Pria itu mengeluarkan pisau kecil di sakunya. Kemudian menamcapkan pisau itu di mata kiri wanita itu tanpa belas kasihan. Mata iu langsung membuat air terjun darah. Pria itu perlahan mencongkel mata kiri wanita itu menggunakan pisau yang masih menancap dimatanya. Mata itu hampir keluar dan “ crt “ darah menyembur keluar. Aku langsung mengalihkan pandanganku.

            Rasa penasaranku terus menyuruhku untuk mengintip lagi. Aku melihat sang pria mengeluarkan usus wanita itu perlahan, tapi tiba-tiba pria itu mengeluarkan usus itu sekaligus. Sontak hal itu membuatku langsung berteriak histeris. Mereka perlahan melirikku sambil menyeringai. Ha-hantu?!

            Aku berlari sekuat tenaga menuju pintu keluar. Sepanjang jalan Aku mendengar suara bisikan yang berkata “Kenapa Kau tidak menolongku?“. Bisikan itu benar-benar membuatku gila. Aku memegang gagang pintu kuat-kuat, tapi pintu itu tidak mau terbuka.
“Hey!,“ sapa seorang anak kecil mengejutkanku. Sepertinya anak ini bukan hantu.
“Jadi kakak juga terjebak disini. Hantu perempuan itu selalu menggambarkan bagaimana Dia dibunuh. Jika kakak mau keluar, kakak harus memberikan mata itu kepada hantu wanita yang tadi. Itu adalah mata wanita yang tadi.“ Jelas anak itu sambil menunjuk sebuah mata yang tergeletak begitu saja di lantai.

            Aku melangkahkan kakiku menuju mata itu. Kemudian Aku memegang bola yang sudah rusak itu. Tiba-tiba hantu itu menyapaku dengan cekikan keras yang membuat mata itu terlepas dari genggamanku.

            Aku berusaha menggapai mata itu sebelum Aku mati tercekik. Tanganku sedikit lagi menggapai mata itu, dan nyawaku sedikit lagi melayang. Akhirnya Aku bisa menggapai mata itu dan memberikannya kepada perempuan itu. Perempuan itu mematung selama beberapa saat. Lalu Dia berubah menjadi debu yang ditiup angin.

            Aku berdiri perlahan sambil berjalan keluar dari tempat horor ini bersama anak kecil yang Aku temui tadi. Entah kenapa pandanganku tiba-tiba terpaku pada sebuah ruangan. Disana ada seorang anak yang sedang duduk di kursi membelakangiku.
“Siapa Dia?,“ tanyaku penasaran
“Itu Aku.“ Jawab anak kecil yang berjalan bersamaku sambil memasang sebuah seringai.

Aku akhirnya ingat ada orang yang berkata bahwa ada sebuah perampokan di mini market, dan pembunuhan kakak beradik yang jasadnya belum di ambil. Aku merasakan handphoneku bergetar. Aku mengambil handphoneku, dan melihat ada sebuah sms masuk dari temanku. SMS itu berbunyi “Dari 200 orang yang Kamu temui setiap hari, 2 diantaranya adalah hantu. *share,“.
 Aku menggerakkan jariku mengetik sebuah pesan “Sialnya hal itu benar. Aku sudah bertemu dengan mereka. Ini akan menjadi cerita yang menarik, jadi tolong buatkan ceritaku ini.“. Kemudian Aku menekan tombol kirim.

Aku memutar mataku ke anak yang tadi. Aku melihat wajahnya yang seperti sudah diparut. Dia membuka mulutnya lebar-lebar, menunjukkan lidahnya yang sudah terpotong. Aku rasa inilah akhirnya. Namaku Stive, dan Aku hanyalah 1 dari 198 manusia normal lainnya. Aku berkomunikasi dengan hantu yang tidak sengaja Aku temui, meskipun mereka hanya 2 berbanging 200, tapi Aku yakin di dunia yang besar ini ada orang yang mangalami hal yang sama sepertiku atau bahkan akan mengalami hal yang sama denganku, contohnya sepertimu.


- Tamat -

Jika Kamu tertarik untuk membuat cerpen seperti di atas, atau cerpen dengan genre lainnya, tips ini akan sangat bermanfaat> Tips dan Cara Membuat Cerpen


Jika kamu mau mencari cerpen lainnya, yang tidak kalah keren dengan cerpen di atas, silahkan klik -> Kumpulan Cerpen

Baiklah, sekian artikel tentang Cerpen Horor Seram 2016, terimakasih atas kunjungannya

Viral Wisuda Madrasah

   Viral Joget Tiktok di Wisuda Madrasah