Cerita Pendek (Cerpen) Misteri Detektif

04:37


[Ini adalah bagian cerite ke dua. Lihat bagian ke satunya di -> Jacko And The Killing Jokes ]

Jacko And The Killing Jokes [Part 2]

“Begini, kita mulai dari bapak itu, dia adalah orang yang baik, penyayang, dan berjiwa sosial yang tinggi –,“
“Menurut mereka,” ucapku memotong ucapannya
“Kita berada dalam theater yang sangat besar. Itukan yang ingin kau ucapkan,”
“Begitulah, karena itulah aku menulis “That’t Funny”, dunia ini adalah hiburan theater yang sangat besar. Ibu tiri yang baik dan bapak kandung tunggal yang jahat. Itu terdengar seperti kebalikan,”
“Kau bilang ayah bersusah payah membuatmu, jika takarannya pas kau menjadi hal yang baik. Aku rasa dalam hal ini yang kau maksud dengan membuat adalah membuat kepribadian, dan maksudmu dengan takaran adalah kebahagiaan dan kesedihan. Orang tua bukanlah mereka yang memiliki ikatan darah denganmu, tapi mereka adalah yang membuat kepribadian dasarmu, jika kasedihan dan kesenangannya pas, kau jadi pribadi yang baik,”
“Kau benar-benar mengerti apa yangku maksud,”
“Sekarang. Apa kau mau mendengar leluconku mengenai sepasang kekasih?”
“Aku rasa itu tidak perlu,” jawabku
“Kenapa?”
“Aku sudah tahu apa lelucon yang akan kau keluarkan. Kau akan mengeluarkan lelucon mengenai ucapan mereka yang tidak lebih dari omong kosong,”
“Bukan itu, kenapa kau menatapku seperti itu?,” lanjutnya
“Tatapan itu, tatapan yang seolah berkata kalau aku ini orang aneh, tatapan yang berkata kalau aku ini salah. Yang benar saja, bukan aku yang salah. Ibuku menyiksaku sebagai pelampiasan dari kekesalannya terhadap ayahku. Dia terus menerus menyiksaku, sampai pada suatu ketika dia dibunuh. Sampai sekarang aku tidak tahu siapa pembunuh itu. Jika aku bertemu dengannya aku sangat ingin berterimakasih kepadanya, karena telah menyirkirkan ibuku. Bukankah sejak awal kehidupanku sudah salah, disiksa ibu kandung dan diselamatkan penjahat,”
“Yang aku lakukan tidaklah salah, karena dunia ini sudah salah,” belanya
“Saat kau membunuh dan menangkap penjahat, keluarganya yang tidak bersalah akan sedih, tapi bisa saja penjahat itu membunuh orang lain jika seandainya dia tidak ditangkap. Selalu ada reaksi,”
“Kau ingin berkata kalau status sama sekali tidak bisa membuktikan apapun, yang benar atau salah, begitukan,” ujarku
“Begitulah, statusmu sebagai detektif dan statusku sebagai penjahat, itu sama sekali tidak membuktikan apapun,” ucapnya sambil berlari dan mendaratkan pukulan
“Bukan itu maksudku.” Ucapku sambil menghindari pukulan itu
Dia meraih sebuah pisau dan mengayunkannya secara brutal. Cih, pisau lagi. Panggung ini sangat luas, jadi aku bisa menghindari serangannya, tapi panggung ini terlalu luas sampai tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Aku melepaskan baretku dan melemparkannya ke wajahnya. Saat pandangannya teralihkan, aku berlari sambil sedikit membungkuk dari samping. Lalu memberinya tendangan keras yang membuatnya terbang ke kursi penonton.
Aku melompat dan mendarat di atas tubuhnya. Lalu mendaratkan pukulan beruntun dengan tangan kanan sambil mengikat tali di tempat ikat pinggannya..
TAP
Dia menahan pukulanku dan membalas seranganku dengan pukulan yang membuat posisi kami bertukar. Kini dia yang memberi banyak pukulan. Tanganku perlahan memegang kaki kursi. Lalu menghantamnya dengan kursi itu. Secara otomatis dia menyingkir dariku.
Kami perlahan berdiri dan menghapus darah di bibir kami. Lalu dengan cepat dia berlari dan memberikan pukulan, tapi aku bisa menghindarinya dan membalasnya dengan sebuah tendangan keras yang membuatnya kembali tiduran di lantai.
“Menyerahlah. Pengalamanku lebih banyak darimu.” Ucapku sambil melangkah menghampirinya
Pandanganku secara tidak sengaja terpaku ke pisaunya yang tergeletak di dekatnya. Ouh shit. Dengan cepat dia meraih pisau itu dan melesatkannya. Pisau itu berhasil merobek lenganku. Dia berdiri dan memberiku pukulan keras. Kini aku yang tiduran.
Aku bediri sambil menahan rasa sakit di tanganku. Dia meraih kursi dan aku melakukan hal yang sama. Dia berlari, tapi langkahnya terhenti mendadak sambil melontarkan kursi itu. Aku berhasil menghindarinya, tapi dia meraih semua kursi di dekatnya satu per satu dan melontarkannya ke arahku. Aku berhasil menghindarinya, hanya saja sebagian. Aku tiduran di lantai dan saat aku bangun, dia sudah melarikan diri.
***
“Kelelahan setelah lari malam,” ucapku mengejutkannya
“Kenapa kau bisa tahu aku disini?” tanyanya heran
“Tali ini,” ucapku sambil menunjukkan tali yang terikat denganku dan terikat dengan tempat ikat pinggang di celananya
“Sejak kapan kau memasang ini?”
“Haduh, kenapa penjahat selalu banyak tanya, tapi baiklah aku akan menjawabnya. Saat aku berada di atasmu dan memberimu banyak pukulan. Saat itu tangan kananku menghajarmu dan tangan kiriku memasang tali ini,”
“Hah, jadi kau ingin tanding ulang?”
“Tidak juga, aku membawa polisi,” ucapku dan disaat yang bersamaan rombongan polisi datang
“Itu curang,”
“Tidak ada yang namanya curang dalam perang, karena kata itu diganti menjadi cerdik.” Timpalku

- End –

Mencoba bertahan hidup di dunia yang tenggelam dalam lumpur ini ...

Artikel Terkait

Previous
Next Post »