Monday 14 December 2015

Cerita Jack And Queen Part 1




Jack And Queen
Chapter 1 : Awal Dari Segalanya

“Misi kali ini sangatlah sulit. Jadi, dengarkan baik-baik,”
“Memangnya kapan aku mendapatkan misi yang mudah,”
“Dengar, kau harus menyelinap ke markas geng Phantom dan mendapatkan informasi yang sudah mereka kumpulkan,”
“Hm,”
“Kau mengerti?”
“Hm,”
“Jangan lupa ajak Alpa dan Deno,”
“Hm,”
“Itu saja,”
“Hm,” Aku menutup telephonenya
“Ada apa?” tanya Deno yang sedang menyusun bungkus korek api menjadi rumah kecil
“Ada permainan baru,”
“Sekarang?”
“Kau pikir kapan lagi?”
“Kita disuruh mendapatkan informasi yang sudah dikumpulkan geng Phantom?” tebak Alpa sambil tetap bermain bliyar
“Ya,”
“Kalau begitu ayo.” timpalnya sambil menaruh stick
“Alpa, kau berjalan di depan, aku 3 meter di belakangmu. Deno, kau memperhatikan dari jauh dan beritahu kami jika ada yang tidak beres,” jelasku
“Kenapa selalu kau yang menyuruh?” keluh Deno
“Karena aku adalah Jack. Jack yang bersenang-senang dengan terjun langsung ke dalam permainan sementara King bermalas-malasan di kerajaan,”
“Itu sudah ke 14 kalinya kau berkata seperti itu,” timpal Alpa
“Yah, dan tadi itu sudah ke 14 kalinya Deno mengeluh seperti itu,” timpalku. Aku beranjak dari sofa abu dan bersiap berangkat.
***
Baiklah, kita lewati bagian dimana kami mengikuti seorang anggota geng Phantom dan langsung ke saat dimana kami menemukan markasnya. 2 orang pria berbadan besar menghadang pintu masuk. Aku dan Alpa berjalan menuju pintu belakang, tapi ternyata markas mereka tidak memiliki pintu belakang.
Jika diperhatikan baik-baik, gudang ini sudah cukup berumur. Mungkin jika kami menempelkan telinga di dinding ruangan tempat mereka berdiskusi, mungkin kami masih bisa mendengar pembicaraan mereka. Aku perlahan menempelkan telingaku ke dinding sambil terus berjalan, mencari letak dinding yang benar. Akhirnya aku menemukannya.
Aku melambaikan tanganku, menyuruh Alpa mendekat. Lalu aku menyuruhnya berjaga di dekatku selagi aku menutup mataku, karena saat salah satu indra dimatikan, indra yang lain menjadi lebih tajam, termasuk pendengaran, dengan begitu aku bisa medengar pembicaraan mereka dengan lebih jelas.
“Kita mendapatkan masalah baru. Carter, polisi yang telah lama memperhatikan kita, bisa kita singkirkan, tapi hal itu akan percuma, karena anaknya akan menggantikannya dan hampir semua hal, tidak akan ada yang berubah,”
“Memangnya, berapa usia anak itu?”
“17 tahun,”
“Dia masih sekolah?”
“Ya, dia masih sekolah di SMA 3. Akan tetapi, kita masih punya banyak waktu, karena mereka akan mengatasi geng Remis sebelum kita,”
“Begitu, ya,”
“Hey!” suara itu rasanya tidak terdengar asing lagi. Apakah dia berasal dari geng kami? Jangan-jangan dia seorang penyusup. Aku harus mengingat suara siapa itu
“Jack!” ternyata itu suara Alpa
“Apa?” tanyaku sambil membuka mataku
“Dia,” jawabnya sambil menoleh ke seorang pria berbadan besar
“Cih,” aku menggaruk rambut belakangku
“Apa yang kalian lakukan?” tanya pria itu.
Gawat, meskipun aku bekerja sama dengan Alpa, rasanya kami tidak mungkin menang melawan banteng itu. Tanpa sengaja pandanganku terpaku ke belakang pria itu. Disana ada Deno dengan balok kayu yang terbilang besar. Bagus, aku harus bisa mengulur waktu.
“Kami hanya sedang mencari barang,” ujarku mencari alasan
“Barang apa?”
“Jam tangan,”
“Apa mereknya?” tanyanya mulai curiga. Cih, aku tidak tahu satu pun mereka jam tangan
“Mereknya you are ugly,”
“Setidaknya meskipun kau tidak tahu merek jam tangan, aranglah nama merek yang masuk akal,” bisik Alpa pelan
“Diamlah,” balasku pelan. Pria itu membuat kerutan di dahinya. “Yuarugli, itu merek yang bagus,”
“Buset!” ucapku dalam hati
“Aku rasa jam tangan kalian tidak ada di sekitar sini, sekarang cepatlah pergi,” ujarnya. Syukurlah, aku selamat.
Tiba-tiba saja pandanganku terpaku ke Deno yang sudah bersiap memukul menggunakan balok kayu itu. Aku memberi isarat untuk tidak melakukannya, tapi aku terlambat. Deno memukul dengan sekuat tenaga sampai balok kayu itu patah, tapi pria itu tidak bergeser sedikitpun.
“Apa yang kau lakukan?” tanya pria itu kepada Deno
“Tadi aku melihat nyamuk di punggungmu, lalu dia memukulnya,” ucapku mencari alasan
“Oh. Sudahlah, cepat pergi dari sini,”
“Huh, aku kira aku akan mati saat masih perjaka,” ucap Deno pelan
“Berterimakasihlah kepadaku, berkat kemampuan mengelesku, malaikat pencabut nyawa tidak jadi mencabut nyawamu,”
“Yah, aku rasa itulah alasannya mereka sering menyebutmu Jack’o Lantern,” timpal Alpa
“Siapa Jack’o Lantern?” tanya Deno
“Lupakan saja, itu hanya kisah kuno mengenai pria yang membodohi malaikat pencabut nyawa,”
“Sudahlah, ayo kita pergi.” Ujarku
            Aku baru mengambil beberapa langkah dan sudah mendapati seseorang yang bersembunyi di belakang tong sampah.
“Siapa dia?” tanya Alpa
“Orang aneh,” balasku sambil menendang tong sampah di depannya
“Ternyata hanya perempuan kecil,” ujar Deno
“Apa kau pikir anak ini mengetahui apa yang kita lakukan?” tanya Alpa
“Kita biarkan saja, hanya kemungkinan kecil dia mengatahui apa yang kita lakukan. Lagipula tidak akan ada yang mempercayai anak-anak.” Jawabku
***
            Kami menghadap atasan kami, tuang Iwa. Beliau sedang duduk santai di sofa merahnya, menghadap ke luar jendela besar yang memperlihatkan indahnya pemandangan kota malam. Lalu kami memberikan informasi yang kami dapatkan.
“Begitu, ya. Setelah diselidiki, dalam kelompok polisi itu, tidak ada yang memiliki potensi menjadi ketua, jadi sebelumnya aku pikir jika kita menyingkirkan Carter, kita bisa tenang, tapi ternyata tidak. Akan tetapi, aku sudah menemukan cara untuk mengatasi hal ini,” ucapnya sambil memutar kursinya menghadap kami
“Jack, aku memiliki tugas yang sangat berat untukmu,”
“Aku sudah bilang 17 kali, langsung saja ke intinya,” timpalku
“Aku yakin, di balik sikapmu yang tidak menghargaiku, kau sangat mengagungkanku, karena itulah aku memberimu tugas ini,” cih, dia percaya diri sekali
“Selain itu, kau juga cukup hebat mengatasi situasi yang sulit,”
“Lalu?”
“Dengan ini aku memerintahkanmu untuk mengingkirkan anak Carter,”
Itu pekerjaan mudah. Aku bisa melacak keberadaanya dan mengingkirkannya tanpa jejak,” ucapku dalam hati
“Tapi kau tidak usah khawatir, aku sudah memiliki cara supaya kau bisa mengetahui siapa dia dengan cepat,” ujar tuang Iwa mendadak
“Kau akan aku masukan ke SMA 3,”
“Apa?” ucapku dengan nada tinggi
“Umurmu masih muda dan kau juga paling pintar diantara teman-temanmu, jadi aku rasa tidak ada salahnya jika memasukkanmu ke SMA 3,”
“Kau gila? Disana gudang remaja yang sering membuatku kesal dengan gaya mereka, bahasa mereka, keluhan mereka, dan hal-hal menggelikan lainnya. Ditambah lagi aku dikeluarkan dari sekolah saat kelas 2 SMP, karena membuat 2 orang guru masuk rumah sakit,”
“Itu tidak masalah, aku bisa mengasi hal itu. Aku juga kenal dekat dengan kepala sekolah disana. Kau persiapkan saja mentalmu,”
“Tapi,”
“Apa kau meragukan perintahku?”
“Tidak,”
“Kalau begitu sudah ditentukan, mulai besok lusa, kau menjadi murid sekolah,”
“Selamat.” Ucap Alpa pelan sambil memasang senyum meledek.
            Oke, kita lewati beberapa bagian dimana aku menjalani beberapa persiapan untuk masuk SMA, dan langsung ke saat dimana aku masuk ke SMA.
            Aku melangkah pelan sambil sesekali memutar pandanganku ke sekeliling sekolah, memperhatikan bangunan dengan cat putih abu ini. Tanpa sengaja pandanganku terpaku ke seorang perempuan bertubuh pendek yang rasanya tidak asing lagi. Kami saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat.
“Kau anak yang kemarin malam!” ucap kami bebarengan

- Bersambung -

Jack & Queen Part 3
Jack & Queen Part 4
Jack & Queen Part 5
Jack & Queen Part 6
Jack & Queen Part 7

Jangan lupa tambahkan aku jadi list kamu di FB supaya kamu bisa tahu kapan update dan membaca cerita lainnya -> Click Here

No comments:

Post a Comment

Viral Wisuda Madrasah

   Viral Joget Tiktok di Wisuda Madrasah