Cerita Jack And Queen Part 2

08:56
Cerita Jack And Queen Part 2


Jack And Queen
Chapter 2 : Perubahan Sekecil Bukit

            Yo, aku Jack Kasima. Orang-orang sering memanggilku Jack’o Lantern, karena kecerdasan dan sifat pemalasku. Aku bisa mengatasi berbagai masalah dengan menggunakan otakku, tapi sebuah tragedi yang mengerikan tiba-tiba saja menghampiriku dan membuat sebuah badai besar di otakku.
“Di sekolah, kau tidak boleh merokok, mabuk, menghajar orang, merayu wanita secara berlebihan, melawan guru, bertengkar, berpakaian tidak sopan, rambut panjang, sepatu tidak berwarna hitam, kabur dari sekolah, dan berbagai hal lainnya,” jelas Deno
“Peraturan itu percis dengan peraturan di penjara, tidak, lebih baik aku masuk penjara daripada masuk sekolah,” keluhku
“Jangan berputus asa begitu. Kau ingat saat kau menipu geng Mono, bos langsung memberi kita tempat ini. Yah, meskipun tempat ini tidak terlalu luas dan didominasi dengan warna abu yang gelap, tapi tempat ini layak untuk menjadi tempat tinggal kita. Bisa saja setelah kau selesai dengan misi ini, bos memberi kita bangunan mewah,”
“Itu sama sekali tidak membuatku tertarik,” timpalku
“Aku mau pergi dulu ke alam lain,” ujarku sambil beranjak dari sofa
“Maksudmu kau mau buruh diri?” tanya Deno
“Maksudku alam mimpi. Besok adalah hari yang melelahkan. Akan tetapi, aku rasa itu bukan ide yang buruk,”
“Kau bercanda?”
“Ya.”
“Maaf saja, tapi sekarang ini aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja,” ujar Alpa. Cih, sifat anehnya mulai kambuh
“Aku harap kau tidak lupa kalau peraturan sekolah mengatakan bahwa kau tidak boleh memiliki rambut panjang, karena itulah,” ucapnya sambil menunjukkan gunting taman
“W-woy, setidaknya pakailah gunting normal,” timpalku
“Tidak ada waktu. Mulai besok penampilanmu sudah harus mirip dengan murid sekolah,”
 “Woy! Kau ingin memotong rambutku bersama leherku?”
“Jika itu terpaksa. Deno, pegangi dia,”
“Baik,”
“Kenapa lu juga ikut-ikutan?” Cih, sial, kalau begini aku harus memberontak.
            Akhirnya perkelahian yang kekanak-kanakan tidak bisa terelakkan. Aku berakhir dengan tubuh di pegangi Deno. Alpa perlahan berjalan menghampiriku.
            Itu adalah kejadian yang menjengkelkan, tapi sekarang ini ada situasi yang lebih merepotkan lagi, sekarang aku bertemu dengan perempuan pendek yang waktu itu, sialnya lagi dia masih mengingatku.
“Kau yang kemarin malam?!” ucap kami bebarengan
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya perempuan itu
“Itu bukan urusanmu,” jawabku. Setidaknya perempuan itu tidak tahu kalau aku adalah anggota geng
“Aku hanya tidak habis pikir, apa yang dilakukan anggota geng di sekolah,” ucapnya
Cih, aku harus mencari solusi,” ucapku dalam hati
“Dengar, Ricka,”
“Darimana kau tahu namaku?!”
“Kau mengenakan name tag,” jawabku datar
“Aaa!” teriaknya sambil menutupi dadanya
“Tenanglah, kau bahkan tidak punya tonjolan untuk dilihat,” timpalku
“Diamlah!”
“Dengar, aku rasa kita sama-sama tidak ingin terlibat dalam urusan apapun, baik itu urusanmu atau pun urusanku. Jadi, lebih baik kita bertingkah seolah kita tidak pernah bertemu. Lagipula tujuanku berada disini tidak ada urusannya denganmu,” jelasku
“Sekolah adalah tempat untuk belajar, jadi aku harap kau tidak menyalah gunakannya.” Ujarnya sambil melangkah pergi
            Baiklah, sekarang bocah itu sudah aku urus, sekarang tinggal menemukan kelas 11 IPS 2, dan membaur dengan penghuni kelas.
***
            Aku perlahan melangkah dan mencari dimana letak kelas 11 IPS 2. Setelah 10 menit melangkah, akhirnya aku menemukan 11 IPS 1, itu artinya aku sebentar lagi sampai di tempat tujuanku. Setelah berjalan 5 menit dari kelas itu, akhirnya aku kembali ke kelas 11 IPS 1.
“Aneh, apa aku tersesat. Tidak, aku rasa ada 2 kelas 11 IPS 1. Aku tidak mungkin tersesat.” Gumamku
             Singkatnya, aku baru berhasil menemukan kelas 11 IPS 2 pada jam 7 tepat. Kebetulan gurunya juga baru mau memasuki kelas.
“Kamu murid baru?”
“Iya,”
“Oh,” ucapnya sambil memasuki kelas bersama aku dibelakangnya seperti ekor
“Baiklah, perkenalkan diri kamu,”
“Namaku Jack Kasima. Aku pindah kesini karena pekerjaan orang tuaku,”
 “Silahkan duduk dimana pun kau suka,”
“Terimakasih.” Balasku sambil melangkah menuju satu-satunya bangku yang kosong
            Guru itu menyuruhku membuka buku ekonomi. Aku pun menurutinya. Dia menjelaskan hal yang sama sekali tidak aku mengerti, tapi sejujurnya aku sama sekali tidak memperdulikan pelajaran ini, aku hanya perduli kepada misiku. Meskipun ini membosankan, tapi setidaknya tidak ada masalah, tapi masalah menghampiriku saat istirahat. Aku melangkah perlahan di sebuah lorong, menuju kantin, meskipun aku ragu arahnya benar. Tiba-tiba saja 4 orang menghadangku, tidak, hanya 3 orang, sedangkan yang satu lagi, entah apa yang dia lakukan. Dia terlihat ketakutan.
“Oy, serahkan uangmu!” bentak salah seorang dari mereka. Melihat potongan rambutnya dan gayanya yang mencolok, aku rasa mereka adalah gerombolan anak pembuat onar. Cih, dasar bocah kurang perhatian. Mereka tidak mungkin anak dari polisi Carter.
“Oy! Kenapa kau diam saja? Kau tuli?” bentaknya lagi
“Berisik!” bentakku sambil menghajarnya, tapi nyatanya aku tidak benar-benar melakukannya. Aku ingat ucapan Deno tentang peraturan sekolah yang melarang perkelahian. Akhirnya aku memberikan sebagian uangku kepada mereka
“Nah, begitu,” ujarnya sambil melangkah menjauhiku
“Kau tidak apa-apa?” tanya seorang murid, sepertinya dia korban dari berandalan itu. Melihatnya yang sangat tidak berdaya, aku rasa dia juga bukan targetku
“Aku tidak apa-apa, tapi aku rasa kau perlu bercermin. Wajahmu sedikit ungu,” jawabku
“Aku sudah terbiasa dengan hal ini. Aku tidak punya uang, jadi mereka memukuliku,”
Sejujurnya aku tidak peduli dengan nasibmu,” balasku dalam hati
“Oh iya, kau tahu jalan menuju kantin?”
“Tentu. Kau mau aku antar?”
“Apa kau tidak keberatan?”
“Tentu saja tidak. Mungkin ini terdengar aneh, tapi saat melihatmu mengalami hal yang sama denganku. Aku yakin kita ini sama dan aku yakin kita bisa menjadi sahabat yang akur,”
Kau baru bertemu denganku kurang dari 5 menit dan kau sudah mempercayaiku seperti itu. Orang sepertimu pasti disenangi penipu,” timpalku dalam hati
“Ya, aku juga berpikir begitu,”
“Ayok.” Ujarnya sambil melangkah bersamaku.
            Sebenarnya, bersama dengan seorang pecundang seperti dia bisa lebih merendahkan derajatku, tapi kali ini aku tidak memiliki pilihan lain. Disini, aku juga merupakan seorang pecundang. Lagipula, aku bisa mendapatkan berbagai informasi darinya.
“Kita sudah sampai,” ujarnya
“Oh iya, terimakasih,”
“Ngomong-ngomong, siapa namamu?”
“Namaku Jack,”
“Itu nama yang unik,”
Jangan komentar,” gerutuku dalam hati
“Jadi, kau mau beli apa?”
“Aku rasa roti cukup bagus untuk saat ini,”
“Kalau begitu ayo aku antar,”
“Tidak perlu,”
“Kau terlalu berlebihan,” tambahku dalam hati
“Tidak usah sungkan-sungkan. Aku juga akan mengantarmu ke tempat duduk,” balasnya. Anak ini, apa otaknya baik-baik saja?
“Oh iya, perkenalkan, aku Niki,”
“Iya, senang bertemu denganmu,”
“Sedikit.” Lanjutku dalam hati. Belakangan ini aku lebih sering berbicara dalam hati.
            Akhirnya aku terjebak bersama orang ini. Apa boleh buat, sekalian saja aku menggali informasi darinya.
“Ngomong-ngomong, apa kau tahu siapa saja murid pintar di sekolah ini?”
“Ya tentu saja, tapi kenapa kau tiba-tiba saja menanyakan hal itu?”
“Aku hanya penasaran. Jadi, siapa saja?”
“Yang pertama adalah Soffy. Dia adalah salah satu dari 10 perempuan paling cantik di sekolah ini,”
“Benarkah?”
“Ya, lihat saja sendiri,” jawabnya sambil menunjuk seorang gadis cantik dengan rambut panjang yang sedikit bergelombang. Gadis itu sedang berbincang bersama beberapa gadis lainnya, tapi hanya dia yang aku tatap. Bibir tipis yang indah. Mata menawan yang dilengkapi bulu mata yang terbilang lentik
“Hey, mulutmu terbuka,”
“Itu wajar. Saat peria menatap sesuatu yang dia sukai, mulutnya memang berbuka selama beberapa detik tanpa dia sadari,”
“Hm, ternyata kau pintar juga,”
“Jadi selama ini kau menganggapku orang bodoh?” tanyaku dalam hati
            Aku rasa ada peluang kalau Soffy adalah anak dari polisi Carter, tapi aku masih belum bisa memutuskan hal itu.
“Lalu selain dia, siapa lagi?”
“Selain dia, adalah Jeremy. Dia adalah salah satu bule, tapi aku lupa dia berasal darimana. Dia pandai dalam bahasa. Dia juga pandai menjilat guru sehingga mendapatkan nilai besar. Auranya yang positif juga sering kali membuat para guru berpikir positif mengenainya,”
“Hm, begitu, ya,” dia juga memiliki kemungkinan yang besar
“Apa ada lagi?”
“Masih ada 2 orang lagi,”
“Siapa?”
“Namanya Ricka, dia adalah seorang siswi yang terbilang aktif dan pandai, juga cakap dalam berbicara. Dia sangat tertarik kepada hal-hal yang berbau ilmiah. Terlepas dari kemampuannya yang mengagumkan, dia memiliki sifat kekanak-kanakan, ditambah lagi dengan tubuhnya yang agak kecil,”
“Si pendek itu?” tanyaku bingung
“Ya, kau mengenalnya?”
“Tidak juga,”
“Lalu, yang terakhir siapa?” aku meminum susu
“Kau sedang berbicara dengan orang itu,” jawabnya dan untuk pertama kalinya aku mengeluarkan susu dari hidungku
“Apa kau bilang?” tanyaku memastikan
“Meskipun penampilanku meragukan, tapi otakku ini sangat bisa diandalkan. Yah, meskipun aku sangat kurang dalam hal olahraga,”
“Begitu rupanya,” memperhitungka pengetahuannya yang lumayan banyak mengenai murid di sekolah ini, aku rasa kepintarannya memang cukup meyakinkan. Jangan-jangan, dia adalah targerku? Tidak, kalau dia targetku, setidaknya dia bisa mengatasi berandalan itu. Lagipula meskipun memang benar dia anak dari Carter, dia tidak akan menjadi lawan yang berbahaya
TRIIIIIINNNGGG
            Bel masuk berbunyi. Akhirnya aku bisa terlepas dari makhluk aneh ini.
“Aku pergi dulu,”
“Iya, hati-hati di jalan,”
“Tentu saja,” balasku sambil beranjak dari kursi. Eh, tunggu dulu, kenapa tidak sekalian saja aku tanya apakah dia tahu siapa anak dari seorang polisi. Setidaknya aku bisa mengeleminasi 4, orang terpintar kecuali dia. Jika dalah satu dari 3 orang terpintar itu anak dari polisi, berarti dialah targetku
“Ngomong-ngomong, aku mau bertanya satu hal lagi,”
“Apa itu?”
“Apa kau tahu siapa murid yang memiliki ayah seorang polisi?”

“Ya, tentu saja aku tahu. Kebetulan dia adalah salah satu dari murid terpintar yang aku sebutkan,”

- Bersambung -

Jack & Queen Part 1
Jack & Queen Part 2
Jack & Queen Part 3
Jack & Queen Part 4
Jack & Queen Part 5
Jack & Queen Part 6
Jack & Queen Part 7

Jangan lupa tambahkan aku jadi list kamu di FB supaya kamu bisa tahu kapan update dan membaca cerita lainnya -> Click Here

Mencoba bertahan hidup di dunia yang tenggelam dalam lumpur ini ...

Artikel Terkait

Previous
Next Post »