Cerpen Komedi Lucu Alami

06:04


Cerpen Komedi Lucu Alami



Cerpen Komedi Lucu Alami - Cerpen atau cerita pendek pastinya sudah tidak asing lagi ditelinga kita, nenek-nenek yang baru lahir pun tahu apa itu cerpen. Tapi tidak ada salahnya juga jika kita lebih memperdalam ilmu kita mengenai Cerpen.

Cerpen lebih pendek dari novel, lebih tepatnya tidak lebih dari 10.000 kata
Cerpen hanya membahas satu konflik sampai selesai dan tidak memperlihatkan titik balik yang dialami tokoh
Cerpen biasanya hanya terdidi dari beberapa tokoh saja
Dan masih banyak hal yang menjadi ciri cerpen lainnya.

Oke, sesuati dengan judul artikel ini, gue akan membagikan sebuah cerpen bergenre komedi.

The Good Day

            Sinar matahari pagi sama sekali tak nampak, padahal ini sudah pukul setengah tujuh pagi. Riki masih saja terdampar di atas kasurnya, meskipun harusnya ia bersekolah hari ini. Nyanyian ayam jantan memasuki telinganya, perlahan matanya terbuka, lalu menutup lagi.
            “RIKI BANGUN!!! UDAH JAM 7!!!” teriak ibunya walau pun masih jam 06:30. Akan tetapi, hal itu berhasil membangunkan Riki, ia bergegas menuju toilet, dan mandi kilat. Setelah selesai ia bergegas mengenakan seragam putih abunya walau itu hari rabu dan harusnya mengenakan batik.
            Setelah selesai Riki pun langsung berlari menuju tempat dimana ia biasa memberhentikan angkot. Nampak mobil berwarna putih merah, ia pun memberhentikan mobil itu. Angkot itu sudah penuh memang, tapi berhubung Riki berpikir kalau waktu itu sudah pukul 7, akhirnya Riki pun memasuki angkot itu.
            Riki duduk bersebelahan dengan perempuan cantik, namun sayangnya dalam bentuk ayam. Riki bersebelahan dengan ayam betina. Sepanjang jalan ia berusaha sekuat tenaga menahan bau ayam itu.
            Sekolahan Riki sudah nampak. Riki langsung memberhentikan angkot dan membayar ongkos walau sekolahnya masih berjarak beberapa meter lagi. Menurutnya lebih baik berjalan kaki sejauh beberapa meter daripada berudaan bersama ayam.
            Untung saja, ketika ia sampai di kelas, guru masih belum masuk. Riki melempar pandangan ke jam dinding di kelas. Jam itu menunjukkan pukul tujuh lebih lima menit. Riki sedikit aneh memang, mana mungkin semua kejadian itu hanya berlalu selama lima menit, tapi Riki tidak telalu ambil pusing dengan hal itu.
            Riki menaruh tasnya di kursi dan mengistirahatkan kakinya.
“Kok, lo pake PSAS sih,Ki? Seragam batik lo mana?” tanya Joni, teman sebangkunya
“Hadeuh! Gue lupa,”
“Hooh, BTW, PR Fisika udah, Ki?”
“Yaudahlah,” balas Riki santai
“Boleh liat nomor 7? Gue tinggal satu nomor laginih,” pinta Joni
“Liat?!” Riki memicingkan matanya
“Jangan liat! Nyontek aja,” ucap Riki
“Hehehe, gue kira lo gak bakal ngasih gue contekan,” ujar Joni
“Bentar,” Riki membuka tasnya. Lalu mengobok-ngobok isinya, namun ia tak menemukan bukunya. Akhirnya ia pun ingat kalau buku Fisikanya masih di atas meja belajar
“Astaga naga! Gue lupa bawa buku Fisika,” wajah Riki mulai pucat
“Mampus lu, bisa-bisa lu direbus dilarutan garam,” ucap Joni
“Cih, gue ngerjain lagi di buku lain ajalah.” Riki mulai menyiapkan buku dan pensilnya. Kemudian melakukan aksi tanya sana-sini, dan liat sana-sini. Ia memang harus bergegas, karena Fisika adalah pelajaran pertama.
            Dengan skill tangan kilatnya, Riki berhasil menyelesaikan tugas Fisika. Sesaat kemudian datanglah seorang guru yang berkata kalau guru fisika tidak bisa masuk karena ada panggilan dari dinas. Entah itu kabar baik atau buruk untuk Riki, disatu sisi ia sudah cape-cape mengerjakan tugas Fisika, disatu sisi ia tak perlu bertatapan dengan pak Doni Maung, guru Fisika.
            Jam pelajara pertama dan kedua berlalu dengan sangat membosankan. Suasana kelas pun tak berisik, semua siswa berada di bangkunya masing-masing, tapi mereka tidak mengerjakan tugas, mereka hanya memainkan ponselnya masing-masing. Keheningan itu akhirnya sirna ketika pak Asep Kobra memasuki ruangan dan mengumumkan kalau sekarang ulangan dadakan.
            Sontak pengumuman itu mengejutkan semua siswa, tapi sifat pak Asep Kobra yang tegas tak menghiraukan hal itu. “Jika kalian memang tidak ingin ulangan, silahkan untuk keluar kelas dan main diluar, tapi jangan harap kalian tuntas pelajaran bapak.” Itulah pesan yang keluar dari mulutnya yang tajam.
            Riki yang sama sekali tidak belajar semalam dan kurang tidur, hanya bisa bengong melihat soal ujian matematik di hadapannya. Perlahan pandangannya bergeser ke arah pak Asep Kobra. Perhatian pak Asep tengah teralihkan koran di hadapannya. Tangan Riki langsung mengeluarkan ponselnya dan memasuki mesin pencari.
            “Pelanggan yang terhormat, maaf, kuota internet Anda sudah habis”. Sial!, gerutu Riki. Akhirnya dia hanya bisa memanfaatkan kemampuan mata elangnya.
            “Baiklah, waktunya sudah habis. Silahkan dikumpulkan.” Ujar pak Asep. Para murid langsung mengumpulkan kertas ulangan mereka, tak terkecuali Riki.
            Pak Doni pamit, ia keluar dari kelas. Dan para muris pun langsung membahas tentang ulangan tadi. “Gila, soal setiap murid beda!”
KREK
            Suara hati Riki yang remuk ketika mendengar ucapan murid di belakangnya. Murid lain pun mengiyakan ucapan murid itu.
            Kejadian demi kejadian buruk menimpa Riki, namun untung saja dia bisa melewati harinya di sekolah. Kini Riki berada dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. Dia berjalan di jalan kecil dengan petakan sawah di pinggirnya.
            “Haah~ kenapa hari ini gue sial banget, ya,” pikirnya. Seketika itu juga ada serangga yang menabrak jidatnya. “Tuh kan, gue sial.
            Pandangan Riki tanpa sengaja terpaku ke sapi besar yang tengah memakan rumput di pinggir jalan. Ketika melihat sapi itu Riki langsung bersykur. Mungkin kamu bingung, “Lho, kok lihat sapi aja bersyukur?
            Ketika melihat sapi itu, Riki langsung berpikir “Untung saja yang tadi nubrug jidat gue serangga, gimana kalo sapi itu yang nubrug jidat gue.
            “Untung tadi gue masih bisa naik angkot, kalo enggak bisa kesiangan. Untung tadi pak Doni Maung gak dateng, kalo ketahuan buku gue ketinggalan, gue bisa dibikin lalab. Dan saat gue mentok ulangan MTK, itu adalah sebuah pelajaran berharga buat gue, gue harus lebih rajin belajar.
            “Saat lo liat orang pake mobil sementara lo pake motor, bersykurlah, orang lain ada yang pake sepeda. Dan saat lo pake sepeda, bersyukurlah, orang lain ada yang jalan kaki. Dan saat lo jalan kaki, bersyukurlah, orang lain ada yang lumpuh. Dan ‘kalau’ lo lumpuh, bersyukurlah, orang lain ada yang udah modar.

- Tamat -

Contact Author (Biar bisa ngobrol-ngobrol dan menjalin buhungan persaudaraan, tau lebih juga gak masalah, hehehe ... atau mau tanya-tanya seputar blog, cara bikin cerita, bisa juga kirim cerita kamu juga buat dipost di blog ini, atau apapun juga. Gue juga post update-an blog ini di medsos btw)

Facebook : Salman Alparizzi
Instagram : @salmanalparizzi
Line : salmanalparizzi

Mencoba bertahan hidup di dunia yang tenggelam dalam lumpur ini ...

Artikel Terkait

Latest
Previous
Next Post »