Thursday, 1 September 2016

Cerita Horor Penakut Dilarang Masuk


Cerita Horor Penakut Dilarang Masuk

Cerita Horor Penakut Dilarang Masuk - Cerita merupakan karya sastra atau karya tulis yang banyak digemari. selain itu genre atau jenisnya pun ada banyak, ada horror, komedi, romance, dan sebagainya. Nah dalam artikel kali ini, saya mau membagikan salah satu cerita horor, yang ... bisa dibilang bikin mimpi buruk.

Oke, langsung aja ke ceritanya, selamat menikmati!

Dia Akan Datang
Oleh : Muhammad Salman Alparizzi


            Apa kamu bisa mengingat mimpimu?. Sebagian besar orang memang selalu melupakan mimpi yang mereka alami saat mereka terlelap, tapi mimpi buruk berbeda. Mimpi buruk selalu diingat oleh orang yang mengalaminya. Bahkan mimpi buruk terkadang meracuni pikiran orang yang dihampirinya.

            Aku pernah mengalami mimpi buruk, sangat buruk. Meskipun mimpi itu sangat menyeramkan, tapi aku hanya bisa mengingat sebagian kecilnya saja. Awalnya di mimpiku ada yang salah paham terhadapku. Kemudian aku bersembunyi dari sesuatu. Lalu aku bertemu dengan orang yang membawa kabar buruk.
           
            Aku sedang berduaan dengan novel horor yang baru aku beli. Mataku terus bergerak dari satu kata ke kata selanjutnya. Tanganku terus membuka lembaran demi lembaran kertas. Sampai akhirnya tidak terasa aku sudah selesai membaca novelku. Aku melempar pandanganku ke jam dinding yang memberitahuku bahwa sekarang sudah jam 7 malam. Aku beranjak dari tempat tidurku. Kemudian melangkahkan kaki menuju dapur.

            Aku berjalan melewati ruang tamu untuk sampai ke dapur. Mataku tidak sengaja melihat seorang perempuan dengan rambut coklat sebahu sedang duduk manis di sofa.
“Tamu dari mana?” pikirku dalam hati, tapi akhirnya aku masa bodo dengan wanita itu. Aku terus berjalan menuju dapur.

            Seperti biasa, aku mencuci tanganku di tempat cuci piring. Tiba-tiba saja pandanganku secara otomatis beralih ke samping kiriku. Aku melihat wanita itu sedang menatapku dalam. Aku langsung berjalan mundur, menciptakan jarak antara kami berdua. Dia perlahan tersenyum kepadaku. Rasanya aku pernah melihatnya.

            Semua lampu tiba-tiba mati menyala terus menerus. Rasa ketakutan langsung menyelimutiku. Aku berlari sekencang yang aku bisa, menuju pintu keluar. Akhirnya aku sampai di pintu keluar. Dengan nafas terengah-engah aku berusaha membuka pintu penyelamat itu, tapi sialnya pintu itu terkunci. Sepertinya orang tuaku mengira kalau aku tidak ada di rumah.

            Tiba-tiba telingaku memberitahuku bahwa ada yang berjalan menghampiriku. Aku langsung memutar leherku kebelakang dan melempar pandanganku ke sumber suara. Aku mendapati wajah hantu itu tepat di depan wajahku. Aku melihat matanya yang bolong dan seringainya yang mengerikan. Sontak aku langsung terjatuh oleh rasa terkejut dan takut. Kemudian aku perlahan merangkak menjauhi hantu itu. Dia terus memutar lehernya ke arahku. Lalu aku langsung melangkahkan kaki dengan cepat menjauhi hantu itu.

            Setelah berlari lumayan jauh, aku memutuskan untuk bersembunyi di bawah meja. Dengan nafas terengah-engah aku berusaha menenangkan diri, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa memikirkan apapun. Otakku benar-benar dipenuhi ketakutan yang luar biasa.

            Aku melihat kaki melayang melewatiku perlahan, tapi kaki itu tiba-tiba terhenti di tengah jalan, sebelum akhirnya dia melewatiku begitu saja. Aku akhirnya mengembuskan nafas lega. Tiba-tiba hantu itu mengejutkanku dengan kepalanya mengintip dari atas meja sambil berteriak kencang. Jantungku terasa mau hancur karena terkejut. Hantu itu perlahan berusaha meraih tubuhku.  Aku bergerak mundur berusaha menjauhi tangannya. Tangannya sedikir lagi menggapaiku. Tiba-tiba tangan hantu yang satunya lagi menangkapku dari belakang. Dia manarikku keluar dari meja, dan menghempaskanku ke dinding.

            Aku perlahan berusaha bangkit sambil terus menatap hantu yang membungkuk di atas meja yang tersorot cahaya mati menyala dari lampu di atasnya. Wajah pucatnya yang berpadu dengan rambut hitam berantakanm menambah keseramannya. Dia perlahan membuka mulutnya, memamerkan giginya yang seperti gergaji.
“Apa yang kau mau dariku?. Keluar dari sini!. Jangan ganggu aku!. Pergi!!” teriakku kesal
Hantu itu membalas ucapanku dengan teriakkan melengking yang menusuk gendang telingaku. Aku menutup telingaku menggunakan telapak tanganku, tapi suara itu tetap menusuk ke dalam telingaku. Kemudian hantu itu melayang pergi menembus dinding, bersamaan dengan suaranya yang perlahan menghilang.

            Tiba-tiba saja pintu terbuka dan lampu menyala dengan normal. Aku perlahan berdiri. Kemudian melangkahkan kaki keluar dari rumah ini. Aku mendapati ibuku bersama dengan barang belanjaannya. Aku menatap ibuku dalam. Saranya senang sekali. Aku tidak bisa menjelaskan perasaanku ini, yang jelas aku sangat senang.
“Kamu kenapa, nak?” tanya ibuku khawatir
“Tadi ada yang mencari kamu, tapi sekarang dia malah tidak ada,” ucap ibuku sambil menaruh barang belanjaanya di dekat pintu. Aku melihat hantu yang tadi, sedang berdiri di belakang ibuku sambil melambaikan tangannya kepadaku.
“Pertama, ibu salah paham terhadapku, ibu beranggapan kalau aku tidak ada di rumah. Kemudian aku bersembunyi dari sesuatu. Lalu ibu datang membawa kabar buruk. Rasanya aku pernah mengalami hal ini. Akhirya aku ingat, aku pernah mengalami hal ini di mimpiku,” ucapku pelan
“Kamu kenapa jadi aneh begitu?. Ibu sedang buru-buru, jadi ibu tinggal lagi ya.” Ucap ibuku sambil berjalan meninggalkanku. Entah kenapa aku tidak bisa mengeluarkan suara untuk menahan ibuku pergi atau berusaha menahannya. Sekujur tubuhku rasanya kaku.

            Akhirnya aku ingat serpihan kecil dari mimpiku. Di akhir mimpiku, aku mati secara mengenaskan dengan usus keluar dari tubuhku dan luka yang menghiasi sekujur tubuhku.
“Kenapa aku mengalami semua hal ini?. Kenapa aku bermimpi seperti itu?”
“Datanglah, datanglah. Bawa mimpi yang sama. Datanglah, datanglah. Bawa akhir yang sama” aku ingat aku membaca mantra itu dalam hati, pada sebuah cerita yang berjudul “Dia Akan Datang”, sebelum akhirnya mimpi buruk itu menghampiriku, dan disusul oleh hantu itu.

            Aku memutar mataku ke hantu itu. Dia melayang menghampiriku perlahan. Aku rasa aku tidak perlu menjelaskan akhir dari kisahku, karena nanti kau juga akan mengalami akhir yang sama denganku. Selamat tidur, semoga kau bermimpi buruk.


- Tamat -

Gimana ceritanya?? Ditunggu komentar yang 'sopan'nya, ya :)

Eits, jangan kabur dulu, baca-baca cerita yang lainnya dong, biar tambah merinding and rame

I'm NOT a Monster!!! (Psychopath story)
Five Days At Fredy (Boneka Hantu)
Liburan Pembawa Kesenangan Dalam Kematian
200 Berbanding 2 (Cerita Hantu)

Saturday, 7 May 2016

Cerpen Cerita Misteri Detektif Keren Abis

Cerpen Misteri Detektif Keren Abis


Cerpen Misteri Detektif Keren Abis - Yo, guys, selamat datang di blog absurd gue. Di artikel kali ini gue mau bagiin cerita, lebih tepatnya cerpen yang bergenre misteri. Misteri pastinya menjadi daya tarik tersendiri, ya guys. Kemisteriusan bisa bikin penasaran, gimana aja cowok misterius yang suka dikejar-kejar cewek kayak admin *jduak. Oke, sebelum ke ceritanya, admin mau bahas dikit mengenai cerpen.

Cerpen atau cerita pendek adalah sebuah karya tulis yang cukup banyak penggemarnya, apalagi kalau di luar negeri, tapi kalau di Indonesia, buset, peminatnya dikit, maklum, orang yang suka baca di Indonrsia itu 1 berbanding 10.000. Mantap, 'kan?

Cerpen itu ada banyak jenisnya. Contohnya kayak Cerpen Komedi, Cerpen Horror, dan lain-lain. Nah, seperti judul dalam artikel ini, kali ini gue mau bagiin cerpen misteri.

Oke, guys, sekian basa-basinya, selamat menikmati cerpennya.

Liburan Pembawa Kesenangan Dan Kematian

            Kenapa ini terjadi?. Liburan ini berjalan dengan lancar sampai salah satu teman kami, Styve, tiduran di lantai dengan darah yang menghiasi sekujur tubuhnya, benar, dia dibunuh. Terus terang, ini pertama kalinya aku melihat kejadian seperti ini.

            Awalnya liburan kami di villa ini baik-baik saja, tapi tiba-tiba saja hal ini datang bersamaan dengan datangnya malam.
“Liburan ini semakin menarik,” gumam Alpa pelan
“Sebelumnya hal ini belum pernah terjadi di villaku. Ini malam pertama kita disini, dan hal ini sudah terjadi. Sebenarnya siapa yang melakukan hal ini?” tanya Garin cemas
“Mana aku tahu. Yang jelas pelakunya ingin memberikan kita sebuah rasa ketakutan,” jawab Griss dingin sambil memotret mayat Styve
“Hah?. Apa maksudmu?” tanya Garin lagi
“Lihatlah,” jawab Griss sambil menunjuk sebuah tulisan ancaman dari darah pada dinding di dekat mayat Styve. Tulisan itu berbunyi “Mati saja kalian”
“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Garin bingung
“Pelakunya pasti salah seorang dari kita, jadi kita bongkar kedoknya sebelum ada nyawa yang melayang lagi. Rika dan Silvi belum mengetahui hal inikan?” ucap Griss
“Ya, belum,” jawabku pelan
“Kalau begitu kita beritahu mereka,” ucap Griss datar
“Tunggu dulu, jika kita memberitahu mereka, akan terjadi kepanikan, ditambah lagi mereka akan sangat sedih,” sangga Garin
“Kita tidak boleh menutupi kebenaran, dan semakin lama mereka mengetahuinya, semakin besar kesedihan yang akan mereka alami,” balas Griss sambil melangkahkan kaki menuju ruang tengah dimana Silvi dan Rika berada, disusul oleh aku dan Garin
“Ayo cepat,” ucap Griss kepada Alpa
“Kalian duluan saja, aku mau mengumpulkan petunjuk.” Balas Alpa

            Setelah melangkahkan kaki selama beberapa saat, akhirnya kami sampai di ruang tengah. Dimana Silvi, dan Rika berada. Mereka sedang duduk di sofa sambil saling melempar canda.
“Ada apa?” tanya Rika yang mulai sadar kalau ada yang tidak beres
“Styve ..., dia,” ucap Garin pelan
 “Mati,” sambung Griss datar. Silvi dan Rika langsung memasang wajah bengong yang menunjukan bahwa mereka tidak percaya dengan hal ini. Kemudian Silvi perlahan meneteskan air mata kesedihan.
“Woy! Apa hatimu itu terbuat dari baja?” bentak Garin marah
“Sudah-sudah tenang,” ucap Rika kepada Silvi
“Yo, gue datang. Semua alat komunikasi sudah dihancurin dan semua jalan keluar termasuk jendela di tutup balok kayu yang udah dipaku,” ucap Alpa sambil duduk di sofa depan Silvi dan Rika
“Untuk melakukan semua hal itu pastinya memerlukan waktu yang tidak sedikit” jelas Griss
“So?” tanya Alpa singkat
“Dimana dan dengan siapa kalian selama 2 jam terakhir?” tanya Griss dingin
“Kalau akusih, sedang tidur di kasur,” jawab Alpa
“Ya, tadi aku sedang bermain tablet di dekat Alpa yang sedang tertidur,” balas Garin
“Ouh ya. Kalau kau, Carter?” tanya Griss kepadaku
“Bukankah tadi aku mengobrol denganmu di dapur,” jawabku bingung
“Aku hanya mengetesmu. Kalau kau, Silvi?” tanya Griss dingin
“Woy! Silvi tidak mungkin membunuh pacarnya sendiri,” bentak Garin marah
“Sebenarnya, orang yang membunuh orang yang dia sukai itu sangatlah sering terjadi. Pembunuhan karena rasa cemburu, bertepuk sebelah tangan, dan hal lainnya. Tidak ada yang bisa menjamin kalau Silvi tidak melakukan hal itu,” balas Griss datar
“Aku mengobrol dengan Silvi dari tadi!” balas Rika
“Ouh ya. Baiklah,” ucap Griss sambil duduk di samping Alpa
“Well, tadi aku menemukan hal yang menarik,” ucap Alpa sambil mengeluarkan 3 buah kartu dari saku jaket putihnya. Kemudian membariskan kartu itu di atas meja.

            Alpa membariskan kartu 5 hati, 5 wajik, dan 6 keriting. Lantas ada apa dengan kartu-kartu itu?. Jujur saja, meskipun aku sudah memperkerjakan otakku dengan sangat keras, tapi aku sama sekali tidak mengerti hal ini.
“Aku menemukan ini di saku Styve. Permainan ini menjadi semakin menarik,” ucap Alpa pelan
“Woy! Kau menganggap ini permainan? Kenapa kau bisa tenang begini?” tanya Garin marah
“Bukankah sudah jelas pembunuhnya ingin mengajak kita bermain. Lagipula kita disini untuk berlibur. Jadi kita nikmati saja liburan ini, karena ini bisa saja menjadi liburan terakhir kita,” balas Alpa
“Mungkin ini juga bisa menjadi petunjuk,” ucap Griss sambil menunjukan foto mayat Styve dari kameranya
“Well, Styve memang suka bermain kartu. Sepertinya dia sengaja menyimpan kartu ini sebagai petunjuk. Masalahnya, apa maksud dari kartu ini,” ucap Alpa
 “Ini sederhana saja,” balas Griss datar
 “Jadi, siapa pelakunya?” tanya Garin penasaran
“Kau,” jawab Griss datar
“Hah?. Apa maksudmu?” tanya Garin bingung
“Sederhana saja. Setiap kartu-kartu ini mewakili orang yang terlibat dalam hal ini,” jawab Griss
“Hoy. Jangan membuatku semakin bingung,” ucap Garin
“Kartu 5 hati, angka 5 merupakan inisial, dengan kata lain, angka 5 itu berarti S. Sedangkan hati bisa dibilang mewaliki perasaan Styve, dengan kata lain 5 hati itu mewakili Silvi. Lalu 5 wajik, angka 5 disini juga mewakili inisial. Persamaan warna wajik dan hati menunjukan kalau orang yang diwakili kartu ini memiliki hubungan dengan Silvi, dengan kata lain kartu 5 wajik mewakili Styve. Dan yang terakhir, kartu 6 keriting, ini mewakili pelaku. Angka pada 2 kartu sebelumnya merupakan inisial, begitu juga dengan kartu ini. Bisa dibilang angka 6 adalah huruf G, tapi disini ada 2 orang yang berawalan huruf G, yaitu aku dan kau. Styve menambahkan hubungan dirinya dengan Silvi, itu artinya pelakunya ada kaitannya dengan hubungan mereka. Dan disini yang berawalan huruf G dan memiliki kaitan dengan hubungan mereka adalah kau. Bukankah kau sudah lama menaruh perasaan kepada Silvi, tapi kau tidak pernah mengatakannya karena Silvi sudah memiliki pacar, yaitu Styve. Pada akhirnya kau menyingkirkan Styve” jelas Griss dingin, membuat kami terpaku mendengarnya
“Tadi kau bilang kalau kau bermain tablet di dekatku, tapi aku sedang tidur, jadi mana mungkin aku bisa tahu kalau kau benar-benar berada di dekatku. Villa ini juga milikmu, jadi besar kemungkinan kalau kau sengaja menjebak kami disini,” tambah Alpa
 “Aku tidak melakukannya!” sangga Garin sambil sedikit melangkah mundur
 “Jadi kalian tidak mempercayaiku, ya?”
“Atau jangan-jangan kalian sengaja menjebakku?” tanya Garin sambil meraih cutter yang sedang menganggur di atas meja di dekatnya
 “Yo, jadi pelakunya sudah ditetapkan,” ucap Alpa sambil beranjak dari sofa
Alpa memutar matanya, menatap kami satu persatu. Kemudian berkata “Jadi hanya aku saja yang akan mengurusnya. Baiklah,”. Alpa perlahan melangkahkan kakinya menuju Garin
“Apa yang mau kau lakukan?” tanya Garin gugup

            Garin mengayunkan cutternya, dan dengan santai Alpa menangkap pergelangan tangan Garin. Kemudian memutarkan tangan Garin. Lalu Alpa mematahkan tangan Garin di bagian siku menggunakan lututnya. Setelah itu Alpa memberikan tendangan keras yang membuat Garin membentur dinding. Alpa perlahan membungkuk dan meraih cutter Garin yang terjatuh ke lantai.
“Sialan!” teriak Garin sambil berlari mengahampiri Alpa

            Garin memberikan sebuah pukulan di wajah, tapi Alpa dapat menghindari pukulan itu dan membalasnya dengan sebuah tebasan di leher yang membuat darah mengalir dengan derasnya.
“Diamlah,” bisik Alpa kepada Garin
“Sayang sekali pilihan kalian salah,” ucap Alpa sambil menarik cutternya dan membiarkan Garin terjatuh begitu saja
“Liburan ini memang sangat menyenangkan, tapi bagian terserunya baru akan dimulai.” Ucap Alpa sambil memutar lehernya menghadap kami dan memamerkan seringainya yang mengerikan.

            Kali ini dia berhasil mempermainkan kami. Sepertinya Garin yang sibuk dengan tabletnya sama sekali tidak sadar kalau Alpa beranjak dari kasurnya, lagipula Alpa bisa saja mengganti dirinya menggunakan bantal atau guling.
“Hm?. Bukankah disaat seperti ini, kau harus lebih panik daripada itu?. Kenapa kau bisa setenang itu?” tanya Alpa sambil menatap Griss tajam
“Sederhana saja. Sebelum kita berkumpul disini aku sudah mencurigaimu,” jawab Griss datar
“Hm,” ucap Alpa tanpa membuka mulutnya sedikitpun
“Setelah kita menemukan mayat Styve, kau tidak langsung kemari bersama kami, tapi kau berkata kalau kau mau mengumpulkan petunjuk sendirian. Jika aku jadi kau, aku pastinya tidak akan melakukan hal itu, karena pembunuhnya bisa saja mengincar nyawaku saat aku sedang sendirian seperti itu, tapi kau tenang-tenang saja, karena kau tahu bahwa kaulah pembunuhnya,” balas Griss tenang
“Ditambah, kartu yang kau bawa tidak memiliki noda darah sedikitpun, sedangkan saku Styve bisa dibilang terlumuri darah. Tadi aku memperlihatkan foto mayat Styve untuk menunjukan bahwa di saku Styve terdapat banyak noda darah, tapi sepertinya kodeku itu terlalu sulit dipahami. Tadinya aku mau menipumu dengan berpura-pura tidak tahu kebenarannya dan terbawa permiananmu, tapi malah teman-temanku yang tertipu. Tadi aku juga sempat berpikir kalau Garin bisa mengalahkanmu, tapi ternyata aku salah besar,” lanjut Griss sambil beranjak dari sofanya
“Ternyata kau memang pintar,” puji Alpa
“Meskipun otakku ini memang hebat, tapi sayangnya tubuhku ini tidak terlalu hebat, jadi sebaiknya kalian pergi selagi aku mengulur waktu. Tadi saat aku berjalan kemari, aku melihat jendela dapur yang di tutup balok kayu yang ukurannya lumayan kecil, mungkin kalian bisa pergi lewat sana,” suruh Griss. Tidak pernah terlintas dipikiranku kalau Griss itu orangnya sangat peduli dengan orang lain. Padahal dia bisa saja melarikan diri sendirian, tapi dia malah menyuruh kami untuk pergi. Orang seperti dia pasti sangat jarang
“Aku akan memberikan kalian waktu 2 menit untuk pergi. Dimulai dari 2 menit yang lalu.” Ucap Alpa sambil memasang seringainya

            Alpa melontarkan cutternya. Cutter itu menancap tepat di perut Griss. Tidak memerlukan waktu yang lama untuk Alpa berlari kehadapan Griss, lalu memegang cutter yang masih menancap di perut Griss sambil menggeser cutternya ke atas, mengoyak tubuh Griss. Pada akhirnya Griss terjatuh tak berdaya dalam hitungan detik.

            Alpa perlahan melangkahkan kaki menuju kami. Entah kenapa rasanya kakiku ini sangat sulit untuk digerakkan, sepertinya ketakutan telah membekukan kakiku ini. Tiba-tiba saja tangan Griss memegang kaki Alpa, memotong langkah kakinya. Alpa perlahan memutar lehernya ke arah Griss.
“Cih!. Lepaskan,” ucap Alpa sambil menendang Griss, tapi genggaman tangan Griss sama sekali tidak terlepas. Akhirnya Alpa mendaratkan tendangan kepada Griss sambil berteriak “Lepaskan! Lepaskan!” secara bertubi-tubi. Melihat kesempatan emas itu aku langsung menarik tangan Rika dan Silvi sambil berlari menjauhi Alpa.

            Kami berlari, berpacu dengan waktu dan didorong rasa ketakutan. Akhirnya kami sampai di hadapan jendela dapur yang terhalang balok kayu kecil yang menempel tepat di tengah-tengahnya. Aku berusaha mematahkan balok kayu itu dan memecahkan jendelanya dengan semua kekuatanku. Banyangkan saja, ada pembunuh gila yang sedang mengincar nyawaku saat ini.

            Aku memutar leherku ke belakang. Aku mendapati bayangan Alpa di luar pintu dapur. Jelas sekali waktunya tidak akan cukup. Akhirnya aku, Silvi, dan Rika bersembunyi di bawah meja. Alpa perlahan melangkahkan kakinya, memasuki ruangan ini. Tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti mendadak di tengah-tengah ruangan, hal itu membuat jantungku semakin berdebar kencang.
“Dimana kalian?. Cepat keluarlah. Carter, dimana kau?. Kau tidak usah takut kepadaku. Kita sudah berteman sejak lamakan.” Ucap Alpa sambil memainkan cutternya

            Aku memutar mataku ke Silvi yang memasang tatapan kosong. Kemudian aku melempar pandanganku ke jam yang menempel di tanganku, jam itu berkata bahwa sekarang sudah pukul 10 malam. Ayahku sepertinya sedang berada dalam perjalanan pulang. Dia pastinya melewati tempat ini menggunakan motornya, dan dia tahu kalau aku menginap disini. Itu artinya masih ada kesempatan. Saat aku melihat cahaya di jendela yang berasal dari motornya. Aku harus membuat sebuah suara yang bising. Kemudian ayahku langsung membantu kami, dan hidup kamipun terselamatkan, tapi bagaimana kalau ternyata cahaya yang aku lihat bukan berasal dari ayahku? Jika cahaya yang aku lihat berasal dari orang yang peduli, mungkin kami masih bisa selamat, tapi jika orang itu sama sekali tidak peduli, itu artinya pemainan berakhir.

            Aku melempar pandanganku ke jendela. Tidak lama kemudian aku mengoper pandanganku ke samping.
“Apa yang sedang kau lihat?” tanya Alpa yang sedang membungkuk di sampingku.

            Secara otomatis aku langsung keluar dari bawah meja bersama dengan Silvi. Aku mendapati Rika sudah diurus oleh Alpa. Alpa perlahan keluar dari bawah meja sambil menatap kami tajam. Tiba-tiba saja aku melihat cahaya dari jendela.

            Alpa mengayunkan cutternya kepadaku. Aku langsung menahannya menggunakan tanganku. Cutter itu merobek kulitku dalam dan membuatku langsung berteriak kesakitan sekeras mungkin. Jika cahaya itu memang berasal dari motor ayahku, teriakkanku ini akan langsung mengubah tujuannya kemari. Untung saja, itu memang ayahku. Aku melihat ayahku yang membelokan motornya dan dengan cepat menuju kemari.

            Ayahku langsung beranjak dari motornya, membiarkan motor itu tergeletak di tanah. Dia meraih sebuah batu besar yang menganggur di tanah. Kemudian melayangkan batu itu ke jendela. Setelah jendela itu berpencar, ayahku melemparkan stun-gun kepadaku. Aku menendang Alpa, menciptakan jarak antara kami. Lalu dengan sigap aku mengambil benda itu. Kemudian dengan cepat aku menempelkan benda itu ke Alpa dan “Drrt”. Alpa akhirnya pingsan tak berdaya.

            Setelah kejadian itu aku, dan Silvi berhasil keluar dari villa itu. Aku dan Silvi menunggu polisi datang di halaman villa. Liburan ini adalah liburan yang paling mengejutkan, tapi entah kenapa setelah melalui semua hal tadi rasanya menyenangkan.

            Tiba-tiba saja Silvi mengajakku untuk masuk kembali ke villa dengan alasan ingin melihat mayat Styve. Tanpa pikir pandang aku langsung menuruti kemauannya itu. Setibanya di hadapan mayat Styve, Silvi hanya diam mematung.
“Aku tahu ini bukan saat yang tepat, tapi setelah mengalami semua kejadian ini, aku sadar kalau aku bisa mati kapan saja. Silvi, aku sangat menyukaimu, apa kau mau menjadi pacarku?” tanyaku serius
“Apa kau serius?” tanya Silvi pelan
“Ya, tentu,”
“Kau pikir kenapa aku sampai mempengaruhi Alpa untuk melakukan semua hal ini. Aku bahkan membohongi diriku sendiri,” lanjutku dalam hati sambil memasang sedikit senyum. Untuk membohongi orang lain, kau harus membohongi dirimu sendiri. Cara itu sangat ampuh, buktinya aku berhasil membohongimu
“Maaf, aku tidak bisa menjadi pacarmu,” jawab Silvi, menghapus senyum di wajahku
“Aku sangat mencintai Styve, meskipun dia sudah mati. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri,” lanjut Silvi sambil membungkuk dan mengelus mayat Styve
“Begitu ya,” ucapku pelan sambil kembali memasang senyum dan bebalik
“Aku tidak tahu apa yang kau katakan itu benar atau salah, tapi aku yakin kalimat ‘aku tidak bisa membohongi diriku sendiri’ itu salah. Buktinya aku bisa membohongi diriku sendiri dengan berpikir dan bertingkah seolah aku sama sekali tidak ada hubunganya dengan pembunuhan ini. Untuk membohongi orang lain, kau harus membohongi dirimu sendiri,” ucapku sambil memutar leher ke arah Silvi
“Apa maksudmu?”
“Sederhana saja. Aku dan Alpa sudah berteman sejak lama. Seiring berjalannya waktu, aku menggeser kepribadiannya. Dan aku berhasil mempengaruhinya, membuatnya melakukan semua hal ini,”
“Kenapa kau sampai melakukan semua ini?”
“Tentu saja untuk mendapatkanmu. Aku pikir, hanya orang gila yang akan menolak penyelamatnya demi mayat, dan ternyata kau ini orang gila, jadi aku pikir meskipun aku memaparkan semuanya tidak akan ada masalah. Tidak ada yang akan percaya kepada orang gila. Lagipula meskipun polisi menaruh curiga terhadapku, mereka tidak akan bisa menangkapku karena tidak ada bukti sama sekali,”
“Kau sama sekali tidak mengerti. Kau mengorbankan teman-temanmu untuk hal yang sama sekali tidak membuatku senang!”
“Tidak ada orang yang mengerti orang lain melebihi orang itu sendiri. Jadi jangan salahkan aku jika aku tidak mengerti dirimu, karena kau juga tidak akan mengerti diriku. Dan untuk meraih sesuatu, kau harus mengorbankan sesuatu. Meskipun tidak ada jaminan kau bisa meraih sesuatu itu. Sejujurnya sekarang aku sudah tidak menaruh perasaan padamu, tidak semestinya aku menaruh rasa kepada orang gila,”
“Aku tidak gila, kaulah yang gila!. Bukankah tadi kau juga hampir mati!”
“Tidak ada orang gila yang sadar bahwa dirinya gila. Dan kau pikir orang yang dikendalikan nafsunya bisa membunuhku? Bisa dibilang dalam kejadian tadi Alpa adalah singanya, dan aku adalah hyena yang mengambil hasil buruan sang singa,” balasku sambil memalingkan wajah dan melangkahkan kaki

            Pada akhirnya polisi tidak mencebloskan Alpa kepenjara. Polisi hanya mengirimnya ke tempat dimana orang-orang seperti dia berkumpul, benar, rumah sakit jiwa. Pada awalnya kisah liburanku ini menjadi bahan pembicaraan di berbagai tempat, sampai akhirnya terhapuskan oleh waktu.

            Begitulah liburan menyenangkanku berakhir. Liburanmu akan sama menyenangkannya dengan liburanku, selama kau menganggapnya menyenangkan. Nikmatilah liburanmu, karena mungkin saja liburanmu itu akan menjadi liburan terakhirmu.


- Tamat -

Itu dia cerpen yang saya buat. Jika Kamu Mau Melihat Cerpen-Cerpen Yang Lain, Bisa Lihat Di ->  Kumpulan Cerpen


Dan Jika Kamu Tertarik Untuk Membuat Cerpen, Artikel ini akan sangat membantu -> Tips dan Cara Membuat Cerpen

Oke, sekian artikel kali ini ya guys. Jangan lupa buat add akun FB gue disini -> Salman Alparizzi  atau tambahin gue ke lingkaran google plus lo. Oke guys, thanks for your visit!

Monday, 2 May 2016

Naskah Drama Komedi Persahabatan : Kepintaran Yang Tertukar


Naskah Drama Komedi Persahabatan : Kepintaran Yang Tertukar


Naskah Drama Komedi Persahabatan : Kepintaran Yang Tertukar – Yo guys, welcome to my absurd blog dengan author aneh nan unic, Alpa (tidak masuk tanpa keterangan). Oke, di artikel kali ini mau bahas tentang naskah drama. Udah lusinan artikel di blog ini yang bahas naskah drama, sampai-sampai gue bikin top 3 Naskah Drama, dan sekarang gue mau bikin lagi naskah drama yang gak kalah kerennya, dengan naskah-naskah drama yang gue bikin sebelum-sebelumnya. Kali ini naskah dramanya tentang Kepintaran yang Tertukar, Nah dari judulnya aja udah kebayangkan bakal gimana? Oke, sebelum ke naskah dramanya. Kita simak dulu sedikit penjelasan mengenai drama.

Naskah drama, adalah suatu teks kejadian-kejadian dalam drama yang akan dipentaskan, sementara drama adalah suatu pertunjukkan atau pementasan yang dilakukan oleh beberapa pemain (antagonis., & protagonist), juga seorang narrator yang bertugas menyampaikan epilog, pergantian babak, dan prolog drama tersebut.

Oke, drama itu ada banyak rasanya, kayak cerita lagi, ada romance, comedy, action, dan lain-lain, hanya saja, kagak ada fantasi sama horror.

Oke, kali ini kita bahas dulu tentang tokoh-tokoh yang akan bermain dalam drama Kepintaran yang Tertukar ini.
Dina : Optimis thinking
Rio : Pemalas stadium akhir
Geri : Plin-plan, dan polos
Pak Didi : Tegas, dan lebih serem dari bapak lu saat marah
Kevin : Orang normal diantara orang-orang aneh.

Oke, kita ke naskah dramanya.

Kepintaran yang Tertukar

            Di suatu kelas yang dirahasiakan keberadaanya, terdapat beberapa orang murid dan seorang guru yang sedang melakukan kegiatan berlajar-mengejar. Namun, tiba-tiba situasi berubah panik! Mau tahu kenapa? Kita saksikan saja langsung. Saya (nama narrator) melaporkan langsung dari tempat kejadian.
Pak Didi : “Baiklah, sekarang bapak akan membagikan hasil ulangan kalian. Yang nilainya di bawah KKM, dapat hukuman!”
Geri : “Hukumannya apaan, pak?”
Kevin :”Palingan push-up atau lari di lapang,”
Pak Didi :”Bukan! Hukumannya pelajaran tambahan selama 2 minggu sepulang sekolah,”
Rio : “Buset! Mati gue,”
Pak Didi :”Baiklah, berhubung yang nilainya kurang dari KKM, Cuma ada satu orang, jadi bapak sebutin nilai dia dulu,”
Geri :”Siapa, ya,”
Dina :”Yang pasti bukan gue,”
Pak Didi :”Yang remidi adalah … deng! deng! Penasaran, ya. Oke, yang remidi adalah … nunggu, ya,” (nadanya ubah jadi nada pembaca acara)
Geri :”Ini guru, lama-lama gue lembar sepatu,”
Pak Didi :”Oke, oke, tenang, yang remidi adalah … Di .. Rio! Selamar kamu mendapat pelajaran tambahan sepulang sekolah selama 2 minggu!”
Yang lain :”Selamat! Selamat! HBD! Selamat menunaikan ibadah puasa,” (datang ke bangku Rio, terus balik lagi ke bangku masing-masing)
Pak Didi :”Oh iya, selain itu, nilai tertinggi diraih oleh Dina, yang sabar, ya, nak,”
Dina :”Iya, pak,”
Pak Didi :”Baiklah, pelajaran sekarang dicukupkan sekian,” (suaranya kembali berat, dan serak-serak cubluk gitu)
            Sepulang sekolah, Rio berbicara pelan
Rio :”Haah, ribet amat jadi gue, ngapaling gak masuk-masuk,” (lewat)
Dina :”Haah, susah amet jadi gue, pas ulangan dimintain contekaan mulu, kalo ga dikasih dikatain pelit,” (giliran Dina yang lewaat)
            Nah, ucapan itu adalah awal dari berubahnya kehidupan mereka. Semuanya menjadi tak sama lagi, yaps, kepintaran mereka tertukar, dan hal itu terjadi ketika berlangsungnya sebuah ulangan, Dina sama sekali tidak berhasil mengisi sesoal pun, sementara Rio, dia berhasil mengisi semua soal dengan tepat. Alhasil, kini nilai mereka terbalik.
(Diam sambil merenung) Dina :”…..”
Geri :”Cie, galau,” (datang sama Kevin)
Kevin :”Udahlah, Din, lo udah kerja keras juga, ‘kan?”
Dina :”Tapi gue gak berhasil,”
Kevin :”Ya kalo gitu kerja keras lagi, lebih keras lagi,”
Dina :”Tapi …,”
Geri :”Ayolah, mana Dina yang over pede,”
Dina :”Thanks, ya, guys,”
Geri :”Itulah gunanya musuh,”
Kevin :”Teman pe’a,”
Geri :”Ya, itu maksudnya.”
            Waktu demi waktu berlalu, ulangan selanjutnya pun datang.
Rio :”Allllah, cuma ulangan kimia ini,” (lewat, melewati narrator yang sedang di depan)
            Dan sekarang, hasil ulangan pun dibagikan.
Pak Didi :”Oke, sekarang nilai ulangan kimia kalian akan dibagikan, seperti biasa, yang remed hanya ada satu orang, dan itu adalah Rio,”
Rio :”Apa?! Kok saya remed, pak?”
Pak Didi :”Ya, karena nilai kamu kurang, kamu cuma dapat nilai 20, banyak soal yang salah, dan nomor dari 11 sampai 20, di belakang kertas tidak kamu isi,”
Rio :”Ah! Sial,”
Pak Didi :”Selain itu, ada juga yang nilainya 100, selamat buat Dina,”
Dina :”Bener, pak? Wah, masakasih banget, pak!”
            Singkatnya, orang rajin pasti pinter, orang pinter, belum tentu rajin, dan lama kelamaan, pisau yang tajam bisa tumpul jika tidak diasah, begitu pula sebaliknya, pisau yang tumpul bisa menjadi tajam jika sering diasah.

- Selesai –

Liat juga naskah drama yang lainnya
Naskah Drama Top 1
Kesalahanku Menyelamatkanku
Bercerita tentang 2 orang penjahat amatir yang mencuri kalung pertama, lalu 2 detektif yang melacak keberadaan 2 penjahat itu. Pastinya naskah drama ini dipenuhi dengan kejadian lucu

Naskah Drama Top 2
Cinta Segitiga Setan
Menceritakan 3 orang murdi yang memperebutkan cinta seorang murid baru. Tentu saja perebutan ini dipenuhi kejadian unik.

Naskah Drama Top 3 
Ulangan

Bercerita tentang macam-macam cara murid menghadapi ulangan, dari murid normal sampai murdi up normal. Naskah drama ini dipenuhi dengan hal menginspirasi dan unik, juga lucu pastinya. Recommended banget!


Oke, guys, artikel kali ini dicukupkan sekian, jika ada komentar, atau hal yang mau ditanyain, atau semagainya komen aja, nanti saya tanggapi. Oke, don’t forget add my to your list friend in FB, click my profile here

Saturday, 30 April 2016

Cerita / Cerpen Horor Psychopath Keren Sadis

Cerita Horor Psychopath Keren Sadis


Cerita Horor Psychopath Keren Sadis - Cerpen (ceria pendek), bisa dikatakan salah satu karya tulis yang banyak digemari. Hal itu wajar saja, mengingat cerpen atau cerita itu banyak rasa atau genrenya, ada horor, comedy, action, fantasi, dan kawan-kawannya. Nah, kali ini, saya akan membagikan sebuah cerita horor yang sudah dijamin keren and sadis. Oke selamat menikmati!

I’m Not a MONSTER!
Hay. Perkenalkan, aku ..., siapa, ya? Entah siapa aku ini, tapi mungkin dengan menulis ulang kisah yang aku alami dapat membuatku ingat siapa aku ini.

Aku terlahir di keluarga dengan orang tua yang memiliki hobby bertengkar. Melempar cacian dan makian adalah rutinitas mereka. Saat itu terjadi aku hanya bisa diam di balik kursi sambil menangis dan berharap kalau mereka akan berbaikan, tapi harapanku tidak pernah menjadi kenyataan. Entah bagaimana aku bisa bertahan di medan perang itu.

Rumahku sangat hancur, tapi lingkunganku tidak kalah hancur. Mereka memanggilku “Culun” hanya karena aku tidak berani merokok, mabuk, dan hal lain yang biasanya mereka lakukan. Mereka mengambil uangku dan terkadang menjadikanku pelampiasan. Meskipun aku kesal, tapi aku tidak bisa melakukan apapun terhadap hal itu.

Saat usiaku 9 tahun, aku mendapatkan seorang adik laki-laki. Saat dia kecil perpecahan antara orang tuaku sudah mulai mereda, karena ayah jarang datang ke rumah. Aku kira adikku akan membuat situasi lebih baik, tapi ternyata dia adalah iblis kecil. Dia selalu berbohong supaya aku dimarahi ibu. Tentu saja ibuku yang bodoh mempercayai kebohongannya. Ibu bilang “Adikmu itu masih kecil, gak mungkin ngebohong kayak kamu!”

Ditindas di rumah, dianiyaya di lingkungan, dikucilkan di sekolah, pelecehan seksual, dan menjadi pecundang. Tentu saja hal itu membuatku depresi. Setiap malam aku selalu sulit tidur karena mendengar bisikan aneh yang mungkin disebabkan hal-hal buruk yang datang kepadaku.

Waktu terus bergulir. Saat aku SMA, untuk pertama kalinya aku mendapatkan sahabat. Dia menarikku keluar dari jurang yang gelap. Kami selalu bersama dan menceritakan banyak hal. Saat SMA pun aku merasakan yang namanya cinta pertama. Tentu saja aku menceritakannya kepada sahabatku. Akan tetapi, saat itu terjadi, rasanya semua itu berubah terlalu cepat.

Saat itu kami dipalak oleh 3 preman, Deni, Doni, dan Andri di sebuah gang yang sepi. Mereka sudah terkenal akan kebengisannya, jadi wajar saja jika aku mengetahui nama mereka. Bahkan menurut kabar angin yang aku dengar, mereka sudah 4 kali keluar-masuk penjara. Aku meraih uangku untuk diserahkan kepada mereka, tapi Arik menahan tanganku.
“Jangan, jika kita menuruti kemauan mereka, mereka akan terus menindas kita,” tegas Arik
“Jadi kau berani melawan kami hah!” Doni itu memberikan pukulan keras tepat di wajah Arik dan membuatnya terpental cukup jauh. Andri dan Deni langsung menghampiri Arik dan mendaratkan tendangan beruntun di sekujur tubuhnya
“Cepat mana uangnya. Kau tidak mau berakhir seperti temanmu’kan?”
“Aku tidak mau ..., kembali kesana,”
“Hah?”
“Aku tidak mau kembali kesana!”

Aku berlari ke arah Arik dan menendang Andri. Lalu menghajar Deni. Tanpa jeda yang lama Doni langsung menghajarku dan membuatku tiduran di jalan. Aku tidak mau kembali ke saat dimana aku tersiksa. Aku meraih batu besar kemudian berdiri sambil melemparkan batu itu ke Doni. Aku berhasil mengenainya, tapi dia tidak terjatuh. Aku berlari lalu melompat ke arahnya sambil mencengkram kepalanya dan membuatnya terjatuh ke tanah. Aku meraih pulpen di saku baju, lalu menancapkannya pada mata kirinya. Aku tidak terlalu yakin, tapi sepertinya pulpen itu menyentuh otaknya. Masih belum aku menarik pulpenku dan mendaratkan tusukan beruntun di tubuhnya dan berteriak “Hentikan! Hentikan! Kau bisa membunuhnya! Kau tidak tahu rasanya sendirian! Kau tidak tahu rasanya hidup di neraka!”
“Bocah sialan!!! Beraninya kau melakukan ini brengsek!!!” Doni memberontak dan berhasil melepaskan diri

Tiba-tiba saja ada orang yang memegangiku dari belakang. Aku melihat Andri di depanku dengan botol di tangan kananya. Jadi di belakangku Deni, ya? Aku menendang tulang kerinya menggunakan kaki belakangku. Lalu menghantam pelipisnya menggunakan siku. Kemudian disusul dengan cengkraman di kepala yang membuat kepalanya terbentur ke dinding gang. Masih belum, aku memarut kepalanya menggunakan dinding gang yang bergerigi itu. Ternyata kemalasan seseorang meratakan dinding bisa menguntungkanku.
“Preng!” pandanganku mendadak kabur. Aku menyentuh kepalaku dan mendapati darah yang berlimpah. Seringai tiba-tiba saja terbentuk di bibirku. Aku memutar pandanganku ke Andri yang berdiri di depanku
“Hahaha! Rasanya sangat sakit, tapi rasa sakit karena luka tidak sepadan dengan rasa sakit karena sendiri. Kau mau mencobanya?” Andri perlahan menjaga jarak denganku.

Tiba-tiba saja Doni berlari ke arahku dengan satu mata sambil mengumpatku. Aku perlahan bergeser dan memberinya tendangan keras di kemaluannya sampai dia bersujud. Lalu aku mendaratkan tendangan keras di kepalanya.
“Tidak sopan memotong pembicaraan orang lain.” Ucapku pelan. Entah kenapa aku bisa setenang ini, padahal kepalaku masih mengeluarkan darah.

Tiba-tiba Andri mengarahkan apa yang tersisa dari botolnya ke leherku. Aku bergeser dan berhasil menghindarinya. Aku menghajar hidungnya menggunakan siku. Aku yakin pandangannya menjadi kabur. Aku merebut sisa botol itu dan mengarahkannya ke leher Andri. Tiba-tiba saja gerakan tanganku berhenti di tengah-tengah. Rasanya ada yang aku lupakan. Aku melempar pandanganku ke arah Arik. Dia sedang menatapku dengan penuh ketakutan. Aku akhirnya hanya menancapkan sisa botol ini ke kepala Andri. Aku melihat sekeliling. Banyak sekali warna merah.

Keesokan harinya Arik tidak menghubungiku atau pun menemuiku. Aku mendapat kabar kalau dia berpacaran dengan orang yang aku suka. Ini benar-benar memuakkan. Rasanya aku ingin mati, tapi aku takut mati. Cih, menyedihkan sekali aku ini. Ini adalah kehidupanku, jika aku ingin merubahnya aku harus mengubah diriku.

Akhirnya aku menemukan sebuah cara untuk mendapatkan kebahagiaan, yaitu dengan mengambilnya dari orang lain. Perlahan diriku mulai berubah, dan akhirnya aku tidak mengenali diriku lagi. Aku perlahan membenci diriku sendiri yang tak menentu. Bertanya-tanya, apakah aku adalah aku?
Aku tidak tahu siapa aku ini, yang jelas I’m Not A Monster
Aku hanyalah korban sosial
I’m Not A Monster
Aku hanyalah orang yang tidak merasakan kasih sayang
I’m Not A Monster
Aku hanyalah orang yang terlalu lama berada dalam jurang yang
gelap
I’m Not A Monster
Aku hanyalah orang yang tidak bisa mempertahankan kebahagiaanku
I’m Not A Monster
Aku hanyalah orang yang tidak bisa bertahan di dunia ini
I’m Not A Monster
Aku hanyalah orang yang mempercayakan hidupku kepada orang asing yang berada dalam diriku
I’m Not A Monster, I'm just a PSY-CHO-PATH

- End -


Itu dia cerpen yang saya buat. Jika Kamu Mau Melihat Cerpen-Cerpen Yang Lain, Bisa Lihat Di ->  Kumpulan Cerpen


Dan Jika Kamu Tertarik Untuk Membuat Cerpen, Artikel ini akan sangat membantu -> Tips dan Cara Membuat Cerpen

Oke, sekian artikel kali ini, jangan lupa untuk mampir lagi dan baca cerita-cerita menarik lainnya yang tersedia disini.


Friday, 15 April 2016

Cerpen Komedi Dijamin 100% Lucu

Cerpen Komedi Dijamin 100% Lucu


Cerpen Komedi Dijamin 100% Lucu - Cerpen atau cerita pendek adalah karya sastra yang banyak disenangi masyarakat, juga bisa diterima di semua kalangan, karena cerpen juga seperti cerita lainnya, ada cerpen untuk anak-anak, remaja, dan juga dewasa. Oke kali ini saya akan mengshare sebuah cerpen yang pastinya lucu.

Sebelum ke cerpennya, kita bahas dulu sedikit tentang cerpennya, ya. Dalam sebuah cerpen terdapat beberapa tokoh (antagonis & protagonis), dan dalam cerpen juga terdapat alur atau jalannya sebuah cerita (alur maju, alur mundur, dan alur campuran), juga dalam cerpen terdapat setting (setting waktu, tempat, dan lain-lain)

Oke, sekarang barulah kita ke cerpennya.

Kesedihan Yang Terbalut Tawa

            Angga adalah seorang remaja normal yang lulus sekolah seperti remaja lainnya. Sadar tidak bisa terus saling melempar canda dengan teman-temannya seperti dulu, Angga mengajak teman-temannya untuk bermain di salah satu rumah temannya setelah kelulusan. Akhirnya setelah kelulusan, mereka memutuskan untuk bermain di rumah Radit yang terletak di pedasaan, dengan alasan supaya mereka bisa bersenang-senang di sebuah desa yang tenang, maklum, kehidupan mereka di sekolah jauh dari kata tenang.

            Angga diam mematung menunggu teman-temannya di pinggir jalan. Sesekali Angga melirik jam yang menempel di tangannya. Angga sudah 9 menit menunggu, tapi tidak satupun batang hidung temannya terlihat.

            Angga memutar lehernya, mengecek apakah salah satu temannya sudah datang, dan ternyata teman-temannya sudah berada di sampingnya.
“Sejak kapan kalian sampai disini?” tanya Angga bingung
“Sejak kami sampai,” balas Alpa datar
“Kita mengobrolnya di perjalanan saja. Kita harus cepat-cepat sebelum matahari berada di atas kepala kita, bisa-bisa nanti kita kepanasan,” ucap Radit sambil melangkahkan kakinya, diikuti oleh teman-temannya
“Ngomong-ngomong, sesampainya disana apa yang akan kita lakukan?” tanya Alpa
“Bukankah rumah Radit masih jauh,” balas Reza
“Tidak ada salahnya untuk merencakanan sesuatu,” timpal Alpa
“Mungkin kau benar,” ucap Radit setuju
“Bagaimana kalau bermain sepak bola?” saran Reza
“Itu terlalu biasa,” tolak Alpa
“Kelereng?” saran Reza lagi
“Itu terlalu kekanak-kanakan,” tolak Alpa lagi
“Kejar-kejaran?”
“Itu baru permainan laki remaja,” ucap Alpa setuju
“Bukankah bermain kejar-kejaran sama biasa dan kekanak-kanakannya dengan 2 permainan sebelumnya?” tanya Angga bingung
“Berisik!” bentak Alpa
“Kau tidak tahu kesenangan saat bermain kejar-kejaran yang sebenarnya,” timpal Reza
“Apa maksudmu?” tanya Angga bingung
“Akan aku tunjukan,” ucap Reza sambil menghampiri seorang bapak-bapak botak yang sedang membungkuk, mencari sesuatu. Tanpa aba-aba Reza langsung memberikan sebuah tendang di bokong pria itu. Akhirnya pria itu secara otomatis tersungkur ke pinggir jalan
“Aaa! Aku tidak percaya kau melakukan hal hina seperti itu Angga,” fitnah Reza sambil menunjuk Angga
“Beraninya kau bocah!” ucap pria itu marah

            Angga langsung tancap gas, disusul oleh pria itu dan teman-temannya. Semua urat di wajah bapak itu menonjol, dan wajahnya sudah merah saga, menunjukkan kalau dia sudah marah maksimal.
“Dengan begini Angga tahu ekstrimnya bermain kejar-kejaran dan kita bisa lebih cepat sampai. Angga sudah tahu jalan menuju rumahmu’kan?” tanya Reza sambil berlari
“Ya.” Jawab Radit singkat sambil terus berlari

            Setelah berlari dikejar-kejar maut, Angga akhirnya sampai di depan rumah Radit, disusul oleh teman-temannya yang sudah terguyur keringat. Angga memutar matanya ke rumah putih sederhana dengan 2 jendela di antara pintu kayu. Rumah yang mengahap ke deretan petak sawah itu terkesang sangat tenang.
“Tadi itu hampir saja. Entah bagaimana aku bisa lolos dari buldoser itu,” ucap Angga dengan nafas terengah-engah
“Baiklah. Sebelum kita pergi ke gubug kecil atau rumah kecil di tengah-tengah sawah itu, aku akan mengambil makanan dulu,” ucap Radit
“Ide bagus, makanan gratis selalu enak,” balas Alpa

Tiba-tiba terdengar sebuah suara pintu terbuka yang disusul oleh suara “Rupanya kau sudah pulang anakku,” yang berasal dari ayah Radit yang tidak lain dan tidak bukan adalah pria yang tadi mengejar Angga
“Dia cepat sekali sampainya,” gumam Angga pelan
“Angga, kau ingin dikuburkan dimana?” tanya Alpa datar, dan Angga hanya diam dibekukan ketakutan
 “Oh, kau yang tadi menendang bokongku, ya?” tanya ayah Radit sambil melakukan pemanasan
“Maaf,” ucap Angga pelan
“Baiklah, kali ini kau aku maaf’kan, tapi jika terulang kembali. Aku akan melepaskan kepalamu seperti aku melepaskan tutup botol,” ucap ayah Radit sambil kembali ke dalam rumah
“Huh. Untung dia orang yang pemaaf,” ucap Angga lega
“Ayo masuk,” ajak Radit
“Tidak, terimakasih. Aku lebih suka disini,” jawab Angga cepat
“Baiklah,” balas Radit sambil masuk ke dalam rumahnya
“Oh iya, ngomong-ngomong, apa kalian tahu detektif Canon?” tanya Alpa mendadak
“Entah kenapa rasanya ada yang salah dalam pertanyaanmu itu,” ucap Reza sambil membenarkan kacamatanya
“Aku ..., tidak tahu. Memangnya siapa dia?” tanya Angga penasaran
“Dia adalah karakter fiktif seperti kita. Dia memakai kacamata yang membuatnya terlihat keren. Kebanyakan karakter berkacamata selalu keren, tapi entah kenapa dalam cerita ini, karakter berkacamatanya malah yang paling error,” ujar Alpa
“Aku rasa yang dikatakan Alpa ada benarnya. Cobalah untuk terlihat keren, jika kau berusaha kau pasti bisa. Coba ucapkan kata-kata bijak dari detektif Canon itu,” ucap Angga kepada Reza
“Kau yakin?” tanya Reza ragu
“Trust me, it works,” jawab Angga sambil menepuk bahu Reza
“Baiklah akan aku coba,” balas Reza
“Detektif juga manusia, bukan Tuhan yang tahu segala,” ucap Reza sambil memantulkan cahaya matahari dari kacamatanya
“Bagaimana apa aku terlihat keren?”
“Kau terlihat konyol,” jawab Alpa datar
“Entah kenapa, jika kau yang menyebutkannya, kalimat itu terdengar berbeda,” tambah Angga
“Ya sudahlah, sepertinya aku memang tidak ditakdirkan untuk menjadi orang seperti itu. Lagipula orang yang sifatnya sepertiku ini sangatlah langka. Setahuku selain aku hanya ada satu orang yang mirip denganku,” ucap Reza
“Benarkah? Siapa dia?” tanya Angga penasaran
“Orang yang membuat cerita ini,” jawab Reza
“Entah kenapa aku tidak terkejut,” ucap Alpa datar
“Ya sudahlah, lagipula hal itu tidak penting. Oh iya, kalian tahu lelucon tok tok?” tanya Angga
“Ouh, lelucon itu. Aku tahu. Memangnya kenapa?” balas Alpa
“Aku punya lelucon tok tok yang bagus,” jawab Angga
 “Tok tok,” ucap Angga
“Siapa disana?” balas Alpa
“Angga,”
“Ouh, silahkan keluar,”
“Bukan begitu sialan!” bentak Angga
“Sudahlah, lagipula aku sudah menduga kalau leluconmu itu tidak lucu,” balas Alpa datar
“Setiap kali kau mengeluarkan leluconmu, hanya 1 orang yang tertawa, dan itu adalah dirimu sendiri,” lanjut Alpa
“Alpa benar, jika kau terus mengeluarkan lelucon garing tanpa kuah, pembaca akan kabur sebelum selesai membaca cerita ini,” tambah Reza

            Alpa dan Reza terus bersikeras bahwa lelucon yang hendak dikeluarkan Angga itu akan garing. Sedangkan Angga bersikeras bahwa lelucon yang hendak dikeluarkannya akan bagus. Kalau menurutmu bagaimana?
 “..., lihat, tidak ada yang menjawab. Itu artinya mereka kebingungan mendeskripsikan lelucon payahmu itu,” ujar Reza
“Sudah cukup. Hayati sudah tidak kuat,” ucap Angga sambil bersujud
“Lihat, sudah kubilang leluconnya tidak lucu,” ucap Reza
“Sudah cukup mengenai leluconku!” bentak Angga
“Maaf, sudah membuat kalian menunggu lama. Tadi sudah aku bilang sebaiknya kalian menunggu di dalam,” ucap Radit sambil keluar dari rumahnya dengan rantang di tangan kanannya
“Baiklah, ayo kita pergi ke tempat bersenang-senang kita,” ajak Radit sambil melangkahkan kakinya, disusul oleh teman-temannya.

            Radit berjalan perlahan di pinggir petakan sawah dengan teman-temannya berbaris rapih di belakang mengikutinya. Sesekali teman-temannya memutar mata ke hewan di sawah, seperti kodok yang melompat-lompat seperti pocong, kecebong yang tenggelam, dan belut yang terkubur dalam lumpur.

            Setelah bejalan melewati sungai besar dengan lebar 30 cm. Lalu melewati komodo, atau lebih tepatnya cucu komodo yang sering disebut kadal. Kemudian mengalahkan naga ajaib yang bisa berubah warna di sebatang pohon. Naga yang kamu kenal dengan sebutan bunglon. Akhirnya Radit dan teman-temannya sampai di pohon yang berjarak 10 meter dari gubug kecil. 10 detik kemudian akhirnya mereka sampai di pohon mangga, barulah setelah itu mereka sampai di pohon jeruk nipis. Kemudian mereka sampai di gubug kecil yang mereka tuju.
“Pemandangan disini lumayan juga,” ucap Alpa sambil terus memutar matanya, menikmati setiap inci keindahan yang tersaji
“Biasanya kita melihat si Didi Maung yang menyeramkan, jadi wajar saja kalau pemandangan ini terlihat indah,” balas Reza
“Oh iya. Apa kalian masih ingat dengan Didi Piton?” tanya Alpa
“Oh ya, bagaimana aku bisa lupa. Waktu itu aku hendak pergi ke wc, aku sudah meminta izin kepada KM. Saat aku membuka pintu kelas, untuk pertama kalinya aku melihat wajah Didi Piton, dan aku langsung berkata ‘Allahhu’akbar!’. Setelah itu aku tidak bisa duduk dengan nyaman selama seminggu,” ucap Reza
“Benar. Dia bisa menangkap siswa yang mencoba kabur dari sekolah dengan cara mengejar, lalu membelit murid na’as itu, karena hal itulah dia disebut Didi Pitong, selain karena tubuhnya yang subur. Dia adalah salah satu dari 7 legenda guru killer, jadi wajar saja kalau dia bisa seperti itu,” tambah Angga
“Ya, begitulah. Memangnya kenapa?” tanya Radit kepada Alpa
“Tidak ada,” jawab Alpa datar
“Lalu kenapa kau menanyakannya,” gumam Angga pelan
“Hey. Bagaimana kalau kita bermain sesuatu?” saran Reza
“Terserah, yang penting jangan main kejar-kejaran,” balas Angga
“Kalau perang-perangan?” saran Alpa
“Itu boleh juga, tapi jangan terlalu berlebihan, bisa saja gubug ini nanti runtuh,” ucap Radit
“Aku mengerti,” ucap Alpa sambil berdiri tegak dan menatap Reza tajam
“Reeeezzaaaaa!!” teriak Alpa
“Aaalpaaaa!!” balas Reza

            Reza dan Alpa saling berlari menghampiri satu sama lain. Kemudian Reza perlahan melayangkan tinjunya, perlahan, benar-benar perlahan. Alpa juga perlahan menghindari serangan Reza, tapi sayangnya Alpa tidak sempat dan akhirnya dengan berat hati menerima serangan dari Reza.
“Khhuuuaaaakkkhhh” ucap Alpa kesakitan, dan tentu saja dengan lambat
“Khuak. Aku mati,” ucap Alpa sambil tiduran
“Huh. Tadi itu pertandingan yang sangat sengit,” ucap Reza dengan nafas terengah-engah
“Sengit apanya?” tanya Angga pelan
“Kesempatan!” teriak Radit sambil berlari menghampiri Reza. Tiba-tiba saja kaki Alpa bergerak, menyandung kaki Radit. Radit nyaris terjatuh dari gubud dan meluncur ke sawah. Kaki Radit sudah berada di sisi gubud. Alpa berdiri pelahan sambil menatap Reza tajam. Kemudian mereka saling mengangguk satu sama lain.
“It’s sparta!” teriak Alpa sambil menendang Radit, membuat Radit terjun dengan bebasnya ke sawah. Alhasil Radit beserta pakaiannya langsung terhiasi lumpur
“Woy! Kau terlalu berlebihan!” teriak Radit marah
“Sudahlah, jangan berlebihan. Lagipula rumahmu dekat dari sini,” balas Alpa datar
“Ya ampun. Bahkan di pedasaan yang sunyi, jika ada kalian kesunyiannya langsung menghilang,” ucap Radit sambil naik ke atas gubug
“Iya-iya. Aku minta maaf,” pinta Alpa
“Tapi kalau dipikir-pikir, setelah ini mungkin kita justru akan merindukan kebisingan seperti ini,” ucap Angga yang membuat semuanya terdiam, menciptakan keheningan selama beberapa saat
“Setiap kali ada pertemuan, selalu ada perpisahan. Rumah kita terpisahkan jarak yang sangat jauh, mungkin saja ini adalah hari terakhir kita bermain bersama,” lanjut Angga
“Bicara apa kau ini? Jarak sama sekali tidak bisa menjauhkan persahabatan. Lagipula sekarang ini sudah jaman modern,” sangga Alpa
“Tetap saja, meskipun kau berbicara begitu ....” ucap Angga pelan
Reza menghela nafas panjang. Kemudian berkata “Alpa benar, setelah ini kita akan sering bermain bersama, karena kita masuk ke SMA yang sama, ditambah lagi nilai UN kita tidak jauh berbeda, dan nilai kita lebih dari cukup untuk masuk ke SMA yang kita tuju,”
“Eh?! Kenapa kalian tidak memberitahuku!” bentak Angga kesal

            Liburan Angga dan teman-temannya berjalan dengan penuh kegembiraan. Terutama bagi Angga, karena pada awalnya Angga menganggap bahwa liburan itu adalah liburan terakhirnya bersama teman-temannya. Jadi anggaplah liburanmu adalah liburan terakhirmu, dengan begitu kau akan lebih menikmati liburanmu, lagipula belum tentu kau bisa berlibur seperti itu lagi.


- Tamat -

Nah, itulah cerpen yang bisa saya bagikan.

Jika Kamu Tertarik untuk membuat cerpen artikel ini akan sangat membantu -> Tips dan Cara Membuat Cerpen

Dan Jika Kamu Mau melihat-lihat dan mencari referensi lainnya, silahkan klik ->  Kumpulan Cerpen

Baiklah, sekian artikel kali ini semoga membantu dan menghibur, jangan lupa datang lagi, ya ...

Viral Wisuda Madrasah

   Viral Joget Tiktok di Wisuda Madrasah